RI News. Serang – Pemerintah Provinsi Banten sedang mengintensifkan upaya penguatan peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai tulang punggung perluasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) khusus untuk kelompok rentan yang disebut 3B: ibu hamil, ibu menyusui, serta balita di bawah dua tahun.
Sekretaris Daerah Provinsi Banten sekaligus Ketua Satgas MBG Provinsi Banten, Deden Apriandhi, menyatakan hal tersebut dalam keterangan resminya di Serang, Kamis (5/3/2026). Menurutnya, dari total 1.081 unit SPPG yang telah terbentuk di seluruh wilayah provinsi, baru 258 unit yang secara aktif melayani kategori MBG 3B. Kondisi ini mendorong adanya target agresif untuk menambah jumlah unit aktif dan mengoptimalkan kapasitas layanan yang ada.
“Penguatan ini bukan sekadar penambahan jumlah, melainkan memastikan distribusi gizi mencapai setiap sudut wilayah secara merata dan tepat sasaran,” ujar Deden.

Ia menegaskan bahwa program MBG 3B bukanlah sekadar distribusi pangan sementara, melainkan bentuk investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia berkualitas menuju visi Indonesia Emas 2045. “Kesehatan generasi awal menentukan fondasi bangsa ke depan. Oleh karena itu, kita harus memastikan tidak ada kelompok sasaran yang terlewat,” tambahnya.
Data terkini tahun 2025 menunjukkan sasaran prioritas di Banten mencakup 38.534 ibu hamil, 14.114 ibu pascasalin (menyusui), serta 60.768 balita di bawah dua tahun. Deden menyoroti pentingnya akurasi data penerima manfaat dan mekanisme distribusi yang transparan serta terukur agar percepatan program dapat berjalan efektif.
Pemprov Banten menjalin sinergi erat dengan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) serta mitra lintas sektor lainnya. Kolaborasi ini difokuskan pada konsolidasi data, pemetaan wilayah, dan penguatan koordinasi lapangan.
Plt Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Wahyuniati, menjelaskan bahwa pendekatan MBG 3B mengedepankan distribusi langsung ke rumah tangga sasaran dengan frekuensi harian. “Tidak hanya makanan bergizi yang disalurkan, tetapi juga disertai edukasi bulanan tentang pola asuh anak, perilaku hidup sehat, serta pentingnya pemeriksaan kehamilan rutin untuk mendukung pertumbuhan janin yang optimal,” katanya.
Pendekatan terintegrasi ini diharapkan dapat mengurangi risiko stunting sejak dini, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi seimbang dalam keluarga. Dengan penguatan SPPG sebagai ujung tombak, program ini diyakini akan semakin menjangkau keluarga-keluarga di daerah terpencil dan rentan di Provinsi Banten.
Upaya ini menjadi bagian dari komitmen daerah dalam mendukung agenda nasional pencegahan stunting dan peningkatan kualitas generasi muda Indonesia.
Pewarta : Vie

