RI News. Jakarta – Kurang dari 24 jam setelah pejabat Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan gencatan senjata baru antara Israel dan Hizbullah, ketegangan di Lebanon selatan kembali memanas. Serangkaian serangan udara Israel pada Sabtu menyebabkan puluhan korban jiwa dan luka, menimbulkan pertanyaan serius atas keberlangsungan perdamaian sementara di perbatasan tersebut.
Menurut Badan Pertahanan Sipil Lebanon, serangan di Nabatieh menewaskan sedikitnya 16 orang dan melukai 12 lainnya. Petugas penyelamat berhasil mengevakuasi puluhan warga ke area yang lebih aman dan membawa korban luka ke rumah sakit terdekat. Serangan ini terjadi meskipun kedua pihak dilaporkan telah mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Jumat sebelumnya.
Serangan Israel diluncurkan dalam gelombang berturut-turut sejak dini hari. Pesawat tempur Israel menghantam wilayah Nabatieh al-Fawqa tak lama setelah tengah malam, diikuti serangan di Arabsalim yang menewaskan tiga orang. Serangan drone di Deir al-Zahrani dan Doueir menambah korban jiwa menjadi dua orang lagi. Di antara yang gugur adalah seorang prajurit Lebanon bernama Jameel Nahhal.

Militer Israel membenarkan operasi tersebut sebagai respons terhadap lebih dari 50 tembakan roket yang diluncurkan Hizbullah semalaman. “Di antara sasaran yang berhasil dihancurkan adalah pos peluncur roket, fasilitas penyimpanan senjata, serta pusat komando,” kata pihak Israel dalam pernyataannya.
Ketegangan sempat meningkat tajam sejak Kamis malam hingga Jumat, yang sempat mengancam kesepakatan damai sementara yang dimediasi AS dengan Iran. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, bahkan menyatakan pernyataan keras bahwa “seluruh Lebanon harus terbakar” menyusul tewasnya empat tentara Israel di wilayah selatan. Ia juga menuliskan di media sosial: “Untuk setiap air mata ibu Israel, seribu ibu Lebanon harus menangis.”
Baca juga : Persimpangan Sejarah yang Mengguncang Persahabatan Polandia-Ukraina
Insiden ini menunjukkan betapa rapuhnya gencatan senjata yang baru saja diumumkan. Para pengamat khawatir eskalasi ini dapat memicu kembali konflik skala besar di perbatasan Israel-Lebanon, terutama dengan keterlibatan aktor regional yang lebih luas.
Situasi di lapangan masih terus dipantau, sementara masyarakat internasional mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan menghormati kesepakatan gencatan senjata demi mencegah korban sipil yang lebih banyak.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline : #IsraelLebanon, #GencatanSenjata, #Hizbullah, #KonflikTimurTengah, #BeritaInternasional, #Nabatieh, #ItamarBenGvir,

