RI News. Padang – Dalam lanskap pembangunan sosial yang semakin menekankan inklusivitas, peran korporasi tidak lagi terbatas pada fungsi ekonomi semata, melainkan juga sebagai aktor strategis dalam transformasi sosial. Hal ini tercermin dalam langkah PT PLN (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang meresmikan Program Massage & Refleksi Dinamika di UPTD Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Tuah Sakato, Kamis (16/4).
Momentum pasca Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi konteks simbolik yang memperkuat makna kegiatan tersebut. Tidak sekadar seremoni, program ini menandai pergeseran pendekatan dari bantuan karitatif menuju pemberdayaan berbasis kapasitas. Penyandang disabilitas netra didorong untuk memperoleh keterampilan praktis di bidang terapi pijat dan refleksi, yang memiliki prospek ekonomi nyata di sektor jasa kesehatan tradisional.
Secara konseptual, program ini dapat dibaca sebagai implementasi model pemberdayaan partisipatoris, di mana individu tidak lagi diposisikan sebagai objek kebijakan, melainkan sebagai subjek yang aktif dalam proses produksi nilai ekonomi. Keterlibatan multipihak—mulai dari pemerintah daerah, lembaga filantropi, hingga sektor perhotelan—menunjukkan adanya pendekatan kolaboratif yang memperkuat ekosistem inklusi sosial.

Dalam pernyataan terpisah, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Barat, Ajrun Karim, menegaskan bahwa program ini merupakan refleksi komitmen institusional untuk memperluas dampak sosial perusahaan. Ia menyoroti bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi hambatan bagi produktivitas, selama tersedia akses terhadap pelatihan dan dukungan yang memadai.
Pandangan tersebut sejalan dengan perspektif kebijakan publik yang menempatkan inklusi disabilitas sebagai bagian integral dari pembangunan berkelanjutan. Sekretaris Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat, Suyanto, menilai bahwa inisiatif ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan martabat peserta. Transformasi ini penting untuk menggeser stigma sosial yang kerap melekat pada kelompok disabilitas.
Lebih jauh, keterlibatan lembaga seperti Rumah Zakat serta dukungan dari sektor perhotelan memperlihatkan adanya integrasi antara pelatihan dan peluang pasar. Hal ini menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan program, sehingga tidak berhenti pada tahap pelatihan, melainkan berlanjut pada akses kerja dan kewirausahaan.
Baca juga : Rem Mendadak di Jalinsum: Kecelakaan Fatal di Kabupaten Dharmasraya dan Problem Sistemik Keselamatan Jalan
Dalam perspektif sosiologi pembangunan, program ini mencerminkan paradigma baru corporate social responsibility (CSR) yang berorientasi pada penciptaan nilai bersama (shared value). Energi yang diusung PLN tidak lagi dimaknai secara sempit sebagai distribusi listrik, tetapi sebagai metafora kepedulian yang menggerakkan perubahan sosial.
Dengan demikian, Program Massage & Refleksi Dinamika bukan hanya intervensi sosial jangka pendek, melainkan bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun masyarakat inklusif. Di tengah tantangan ketimpangan akses dan peluang, inisiatif ini menghadirkan narasi alternatif: bahwa pemberdayaan yang tepat dapat mengubah keterbatasan menjadi kekuatan, serta membuka jalan bagi kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.
Pewarta : Mayang Sari

