RI News. Deir Al-Balah, Gaza Strip 11 April 2026 – Tepat enam bulan setelah gencatan senjata di Jalur Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, wilayah tersebut masih terjebak dalam kondisi “bukan perang, bukan pula perdamaian”. Meskipun intensitas pertempuran besar telah mereda, kemajuan substantif hampir tidak terlihat, sementara perhatian dunia kini teralihkan ke konflik baru yang melibatkan Iran.
Dengan populasi sekitar dua juta jiwa, Gaza masih bergantung pada bantuan kemanusiaan yang sangat terbatas. Hanya satu pos perbatasan yang dikendalikan Israel yang beroperasi, menyebabkan pasokan medis, makanan, dan bahan bakar sulit masuk. Ribuan keluarga hidup di tenda-tenda pengungsian yang rapuh, sementara sebagian lainnya bertahan di bangunan rusak berat. Penyakit kulit, infeksi pernapasan, dan masalah sanitasi semakin meluas akibat kepadatan penduduk dan kurangnya air bersih.
Lima organisasi bantuan internasional dalam penilaian terbaru mereka menyebutkan bahwa rencana gencatan senjata 20 poin yang digagas Amerika Serikat mengalami kegagalan signifikan di sektor kemanusiaan. Selama dua minggu pertama Maret 2026, jumlah truk bantuan yang masuk Gaza turun hingga 80 persen, sementara harga barang pokok melonjak tajam. Evakuasi medis pun praktis terhenti.

Warga Gaza menyuarakan keputusasaan yang semakin dalam. “Seolah-olah gencatan senjata ini hanya di atas kertas. Polusi, penyakit, dan ketakutan masih mendominasi kehidupan sehari-hari,” ujar Maysa Abu Jedian, seorang ibu pengungsi dari Beit Lahiya. Senada dengan itu, Eyad Abu Dagga yang berteduh di kamp Khan Younis mengatakan, “Perang belum benar-benar berakhir. Hidup kami tetap mengerikan.”
Meski pertempuran skala besar telah berkurang, serangan sporadis masih berlangsung. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak Oktober 2025 hingga awal April 2026, sedikitnya 738 warga Palestina tewas akibat serangan Israel di dekat zona militer atau sebagai respons terhadap pelanggaran gencatan senjata. Secara keseluruhan, korban tewas sejak Oktober 2023 mencapai lebih dari 72.000 orang. Kementerian ini mencatat data korban secara rinci dan dianggap cukup kredibel oleh lembaga internasional, meski tidak membedakan antara sipil dan kombatan.
Di tengah situasi ini, Badan Perdamaian (Board of Peace) yang dibentuk dan dipimpin Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump tampak kehilangan momentum. Badan tersebut, yang diluncurkan dengan komitmen dana hingga 7 miliar dolar AS dan ambisi menyelesaikan berbagai konflik global, belum mengadakan pertemuan lanjutan sejak serangan terhadap Iran dimulai. Proposal pelucutan senjata Hamas — langkah krusial untuk mengakhiri kekuasaan kelompok tersebut selama dua dekade — masih menunggu respons, tanpa tenggat waktu yang jelas.
Baca juga : Diplomasi Drone Ukraina di Timur Tengah: Pertukaran Keamanan yang Menguatkan Ketahanan Energi Kyiv
Nickolay Mladenov, Direktur Badan Perdamaian, sempat mengingatkan Dewan Keamanan PBB bahwa Gaza tidak boleh dilupakan di tengah konflik baru. “Pilihannya hanya perang yang kembali berkobar atau awal yang baru. Tidak ada jalan tengah,” katanya. Namun, bagi banyak warga Palestina, pilihan ketiga yang mereka rasakan adalah pengabaian total.
Pendekatan Trump yang lebih menekankan penghentian pengeboman daripada penyelesaian menyeluruh kini diuji di front Iran. Gencatan senjata dua minggu yang rapuh di perang tersebut justru menimbulkan kebingungan mematikan di Lebanon. Israel terus melakukan operasi terhadap Hizbullah yang didukung Iran, sementara Iran mengancam akan membatalkan kesepakatan jika Lebanon tidak dimasukkan dalam perjanjian. Baru-baru ini, Israel bahkan mengumumkan rencana negosiasi langsung dengan Lebanon, meski kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik.

Situasi ini semakin menyulitkan upaya rekonstruksi Gaza. Negara-negara mediator utama seperti Mesir dan Qatar kini lebih fokus pada dampak ekonomi perang Iran. Minat untuk mengirim pasukan stabilisasi internasional ke Gaza pun menurun. Indonesia, salah satu negara yang telah berkomitmen mengirim pasukan, baru saja kehilangan tiga penjaga perdamaiannya di Lebanon selatan dalam insiden terpisah baru-baru ini.
Para analis menyebutkan bahwa tanpa tekanan diplomatik konsisten dari tingkat tertinggi — terutama Amerika Serikat — kemajuan di Gaza akan sulit tercapai. Sementara itu, warga Gaza terus menjalani hari-hari mereka di antara reruntuhan, dengan harapan akan masa depan yang lebih baik semakin samar di tengah ketidakpastian regional yang semakin rumit.
Berita ini menunjukkan betapa rapuhnya perdamaian di Timur Tengah: satu konflik yang mereda dapat dengan cepat tertutupi oleh konflik baru, meninggalkan jutaan warga sipil dalam limbo yang panjang.
Pewarta : Setiawan Wibisono

