RI News Portal. Havana – Di tengah eskalasi konflik di Amerika Latin, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menegaskan bahwa pemerintahannya tidak terlibat dalam pembicaraan apa pun dengan otoritas Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul hanya sehari setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan ancaman terhadap pulau Karibia tersebut, menyusul intervensi militer AS di Venezuela yang mengejutkan dunia internasional.
Díaz-Canel menyampaikan sikap tegasnya melalui serangkaian pernyataan publik, menanggapi saran Trump agar Kuba segera mencapai kesepakatan sebelum terlambat. Meskipun Trump tidak merinci bentuk kesepakatan yang dimaksud, Díaz-Canel menekankan bahwa kemajuan hubungan bilateral hanya mungkin jika didasarkan pada prinsip hukum internasional, bukan pada permusuhan, ancaman, atau tekanan ekonomi. “Kami selalu terbuka untuk dialog yang serius dan bertanggung jawab dengan pemerintahan AS mana pun, termasuk yang saat ini, asal didasari kesetaraan kedaulatan, saling menghormati, norma hukum global, dan manfaat bersama tanpa intervensi dalam urusan domestik serta penghargaan penuh terhadap kemandirian kami,” ujarnya.

Pernyataan ini juga didukung oleh Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez, yang mengulangi komitmen Havana terhadap diplomasi yang adil. Ancaman Trump sebelumnya menyoroti ketergantungan Kuba pada pasokan minyak dan dana dari Venezuela, yang kini terputus setelah operasi AS pada 3 Januari lalu. Serangan tersebut menewaskan 32 perwira Kuba dan berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro, mengubah lanskap geopolitik regional secara dramatis.
Sebelum intervensi, Kuba memperoleh sekitar 35.000 barel minyak per hari dari Venezuela, ditambah 5.500 barel dari Meksiko dan 7.500 dari Rusia, berdasarkan data pemantauan oleh Jorge Piñón, pakar dari Institut Energi Universitas Texas di Austin. Namun, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum baru-baru ini menolak memberikan rincian pengiriman minyak terkini atau komitmen peningkatan pasokan pasca-krisis Venezuela. Ia hanya menyatakan bahwa bantuan tersebut telah berlangsung lama dan bukan merupakan inisiatif baru, sambil menegaskan ketersediaan cadangan minyak nasional meski produksi Petróleos Mexicanos terus merosot. Sheinbaum juga menawarkan mediasi antara AS dan Kuba jika kedua pihak bersedia.
Krisis energi ini memperburuk kondisi di Kuba, di mana pemadaman listrik kronis telah menjadi rutinitas akibat kekurangan bahan bakar dan infrastruktur listrik yang usang. Para analis memperingatkan bahwa hilangnya pasokan Venezuela akan memperdalam krisis multidimensional pulau itu, yang berakar pada stagnasi ekonomi pasca-pandemi COVID-19 serta peningkatan sanksi AS sejak era Trump pertama. Sanksi-sanksi tersebut dirancang untuk mendorong reformasi politik di Kuba, dengan dampak ekonomi yang mencapai lebih dari 7,5 miliar dolar AS antara Maret 2024 hingga Februari 2025—jumlah yang melampaui puncak pendapatan pariwisata tahunan Kuba di dekade sebelumnya, yang hanya sekitar 3 miliar dolar.
Baca juga : Siswi SMK Wonogiri Tantang Norma: Cita-Cita Mekanik Sepeda Motor dari Hati Nurani
Dampaknya tidak hanya ekonomi; krisis ini memicu arus migrasi besar ke AS, di mana warga Kuba sempat mendapat hak istimewa sebagai pengungsi sebelum pembatasan imigrasi diterapkan. Andy S. Gómez, mantan dekan Sekolah Studi Internasional Universitas Miami dan pakar studi Kuba, menggambarkan situasi ini sebagai “sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan.” Menurutnya, pernyataan Díaz-Canel merupakan upaya untuk membeli waktu bagi elite penguasa guna merumuskan strategi selanjutnya. “Mereka melewatkan peluang emas saat Presiden Barack Obama membuka jalur diplomatik, tapi kini kondisi semakin mendesak bagi Kuba,” tambah Gómez.
Di sisi lain, Michael Galant dari Pusat Riset Ekonomi dan Kebijakan di Washington, D.C., berpendapat bahwa Kuba sebenarnya terbuka untuk negosiasi. “Havana telah lama mencari cara meredakan sanksi, bukan karena ketidakkooperatifan,” katanya. Topik potensial meliputi isu migrasi dan keamanan, meski Galant yakin Trump tidak tergesa-gesa. “Strategi Trump tampaknya memperburuk krisis ekonomi Kuba untuk memaksa perubahan, dengan risiko minimal bagi dirinya. Tidak ada indikasi aksi dramatis dalam waktu dekat.”

Díaz-Canel menegaskan bahwa satu-satunya kontak dengan AS terbatas pada isu teknis migrasi, sementara ketegangan tetap tinggi. Di tengah itu, kehidupan sehari-hari di Kuba berlanjut dengan campuran ketakutan dan ketahanan. Oreidy Guzmán, seorang pengantar makanan berusia 32 tahun, berharap tidak ada bencana, tapi yakin rakyat layak mendapat perubahan jika diperlukan. Meilyn Gómez, ibu rumah tangga berusia 37 tahun, mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan apa pun di era Trump, yang ia anggap sebagai sosok yang mencari sensasi. Sementara Rubén Benítez, bartender berusia 57 tahun, mencerminkan semangat kolektif: “Kami akan mempertahankan apa yang tersisa, meski jutaan orang siap turun ke jalan.”
Dari perspektif akademis, dinamika ini menggarisbawahi ketegangan antara ideologi komunis Kuba dan agenda hegemoni AS di hemisfer barat. Studi hubungan internasional menunjukkan bahwa sanksi unilateral sering kali gagal mencapai tujuan politik jangka panjang, malah memperkuat rezim yang ditargetkan melalui narasi nasionalis. Di era globalisasi, ketergantungan energi regional menjadi titik lemah, memerlukan pendekatan multilateral untuk resolusi berkelanjutan. Analisis ini menyoroti perlunya dialog berbasis prinsip untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, sambil mempertimbangkan dampak humaniter terhadap masyarakat sipil.
Pewarta : Setiawan Wibisono

