RI News. Nabatiyeh, Lebanon — Tentara Lebanon secara resmi menarik pasukannya dari barak di desa Kfar Tebnit, Sabtu (14/6/2026), menyusul kemajuan pasukan Israel di wilayah sekitar. Langkah ini mencerminkan dinamika rumit di lapangan di tengah sinyal kuat adanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang akan mencakup Lebanon.
Seorang pejabat militer Lebanon mengonfirmasi penarikan tersebut sebagai respons terhadap infiltrasi pasukan Israel ke kawasan strategis. Militer Israel diduga sedang berupaya menguasai Bukit Ali Taher, sebuah titik tinggi yang selama ini menjadi posisi penting karena dapat mengawasi Nabatiyeh dan jalur-jalur penghubung desa-desa di sekitarnya. Bukit yang sama pernah dikuasai Israel selama 18 tahun hingga penarikan total pada Mei 2000.
Badan Berita Nasional Lebanon melaporkan serangkaian serangan udara dan penembakan artileri Israel di beberapa desa dekat Nabatiyeh, termasuk yang menewaskan dua warga sipil di Deir al-Zahrani. Sementara itu, sebuah serangan drone Israel juga melukai serius seorang tentara Lebanon di jalur antara Nabatiyeh dan Kfar Rumman.

Di pihak lain, Hizbullah menyatakan telah melancarkan serangan balasan menggunakan drone serat optik terhadap posisi Israel di pinggiran Kfar Tebnit. Kelompok yang didukung Iran ini terus memanfaatkan teknologi drone untuk menimbulkan korban di kalangan pasukan Israel sejak awal konflik terkini.
Kemajuan Israel di lapangan terjadi hanya sehari setelah Perdana Menteri Pakistan mengumumkan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan prinsip untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyatakan bahwa kesepakatan awal akan mencakup “semua front, termasuk Lebanon”.
Pejabat senior Hizbullah, Hussein Haj Hassan, menegaskan bahwa pihaknya telah menerima informasi dari Iran bahwa Lebanon akan menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata mendatang antara AS dan Iran. Iran sendiri merupakan pemasok utama senjata dan pendanaan bagi Hizbullah selama lebih dari empat dekade.
Baca juga : Polisi Turun ke Lapangan Hijau: Ligaku Bhayangkara Lahirkan Talenta Sepak Bola Masa Depan di Gunungkidul
Meski gencatan senjata sempat diberlakukan sejak 17 April lalu dan beberapa kali diperpanjang, realitas di lapangan menunjukkan situasi yang jauh berbeda. Israel masih menguasai sebagian besar wilayah selatan Lebanon, sementara Hizbullah — yang tidak terikat langsung dalam kesepakatan Israel-Lebanon — terus meluncurkan serangan roket dan drone secara berkala.
Perang Israel-Hizbullah gelombang terbaru meletus pada 2 Maret 2026, menyusul serangan roket Hizbullah ke Israel utara dua hari setelah operasi militer AS-Israel terhadap Iran dimulai. Konflik ini telah menewaskan lebih dari 3.700 orang di Lebanon menurut Kementerian Kesehatan setempat. Di pihak Israel, tercatat 30 tentara dan satu kontraktor pertahanan gugur di atau dekat selatan Lebanon, serta dua warga sipil tewas di utara Israel.
Penarikan pasukan Lebanon dari Kfar Tebnit dan upaya Israel merebut posisi-posisi strategis menjelang kesepakatan diplomatik menggambarkan pola klasik dalam konflik Timur Tengah: pihak-pihak yang terlibat berusaha memperkuat posisi tawar-menawar di meja perundingan melalui fakta di lapangan.

Bagi Israel, menguasai bukit-bukit penting seperti Ali Taher dan Beaufort Castle memberikan leverage keamanan serta tekanan diplomatik. Sementara bagi Hizbullah dan Lebanon, serangan balasan yang terus berlanjut menjadi cara mempertahankan pengaruh dan menjaga kredibilitas di mata pendukungnya.
Perkembangan ini menandakan bahwa meskipun angin damai mulai bertiup dari arah diplomatik, medan pertempuran di selatan Lebanon masih jauh dari tenang. Situasi ini berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan secara keseluruhan dalam beberapa pekan mendatang.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline : #IsraelLebanon, #Hizbullah, #GencatanSenjataTimurTengah, #KonflikLebanon, #AliTaher, #DiplomasiIranAS, #BeaufortCastle, #BeritaInternasional,

