RI News. Padangsidimpuan — Suara itu keluar lirih namun penuh ketenangan, meski angin sore di Jalan Kenanga masih membawa debu dari barang-barang yang baru saja dikeluarkan dari rumah lama. Di usia 87 tahun, dr. Badjora Muda Siregar, Sp.B., tidak menyisakan ruang untuk amarah. Yang tersisa hanyalah pesan mendalam tentang kejujuran, yang ia ucapkan tepat setelah meninggalkan rumah yang telah menjadi saksi pengabdiannya puluhan tahun.
“Jujurlah dalam menjalani hidup. Jangan suka mengakali atau mengkelabui orang lain. Karena rezeki dari hasil mengkelabui itu justru akan membawa malapetaka bagi kita sendiri,” ujarnya dengan nada tenang, sebagaimana dikisahkan dalam pertemuan baru-baru ini.
Dokter bedah senior yang dikenal sebagai pionir layanan bedah di Tapanuli Bagian Selatan ini memang memiliki riwayat pengabdian yang panjang. Kariernya dimulai sejak 1968 sebagai dokter bedah. Setelah mengabdi sekitar 11 tahun di Medan sebagai dokter umum dan 10 tahun di Jakarta sebagai dokter bedah, pada 1970 ia memutuskan pulang ke tanah kelahiran dan menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Umum Padangsidimpuan.

Di kota itu, dr. Badjora tidak hanya menjalankan tugas resmi. Ia membuka klinik pribadi yang selalu ramai pasien. Bagi ribuan warga setempat, beliau lebih dari sekadar dokter spesialis bedah. Ia menjadi figur ayah bagi yang kesulitan: mengkhitan anak-anak secara gratis, mengobati pasien kurang mampu tanpa memungut biaya, serta membantu banyak anak yatim menyelesaikan pendidikan hingga mandiri.
“Dulu, saya pertama kali bertugas di Padangsidimpuan itu pada tahun 1970 sebagai Kepala Rumah Sakit Umum di sana. Saya juga membuka klinik sendiri. Pasiennya sangat banyak waktu itu,” kenangnya dalam percakapan yang terekam.
Sebelum menetap di Padangsidimpuan, perjalanan tugasnya melintasi Medan dan Jakarta. “Semuanya saya jalani dengan senang hati,” tambahnya sederhana, mencerminkan dedikasi tanpa pamrih yang menjadi ciri khas hidupnya.
Namun, di pengujung usia, kebaikan yang telah ia tanam bertahun-tahun itu dihadapkan pada ujian pahit. Rumah peninggalan ayahnya, BM Muda, yang selama ini ia tempati, harus ia tinggalkan akibat sengketa warisan keluarga yang berujung pada eksekusi pengosongan oleh pihak berwenang pada pertengahan April 2026. Keponakannya yang terlibat dalam kasus ini berdiri di pihak lain dengan dokumen hukum di tangan.
Meski demikian, dr. Badjora tetap berdiri tegak dengan wibawa seorang senior. Ia tidak menunjukkan dendam, melainkan justru menyampaikan refleksi yang menyentuh banyak hati.
“Jangan mau kaya karena korupsi. Hasil korupsi itu merusak kepercayaan. Banyak orang yang biarpun dia kaya, tapi dia tidak akan merasa tenang di hari tuanya. Peliharalah rezeki yang datang dengan cara yang baik, supaya kamu bahagia di hari tuamu,” pesannya.
Dalam bahasa daerah Batak yang lembut, ia menambahkan, “Jadi jujur ma mangoluon, so marbahagia ho di hari tuamu. Nanggo pola kayo ho, tapi marbahagia ho.” Artinya kurang lebih: “Jadilah jujur dalam hidup, supaya kamu bahagia di hari tuamu. Biarpun tidak terlalu kaya, yang penting kamu bahagia.”

Kini, dr. Badjora mungkin tidak lagi memegang kunci rumah di Jalan Kenanga. Namun, nama dan jasanya tetap tertanam di hati ribuan warga Tapanuli Bagian Selatan yang pernah merasakan sentuhan tangan dinginnya sebagai dokter sekaligus teladan kemanusiaan.
Kisah ini menjadi pengingat tajam di tengah masyarakat yang kerap terjebak dalam perebutan harta: bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada aset fisik, melainkan pada ketenangan hati yang hanya bisa diraih melalui jalan lurus dan kebaikan yang tulus. Di usia senja, dr. Badjora mengajarkan bahwa kejujuran bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang abadi.
Pewarta : Indra Saputra

