RI News. Padangsidimpuan– Kualitas udara di Kelurahan Padangmatinggi, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, semakin memburuk akibat aktivitas kendaraan proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR). Debu tebal yang beterbangan setiap hari telah menjadi keluhan utama warga, mengganggu kesehatan dan kenyamanan sehari-hari.
Jalan Perintis Kemerdekaan sebagai akses utama keluar-masuk kendaraan proyek kini menunjukkan kondisi yang ekstrem. Saat musim hujan, permukaan jalan berubah menjadi berlumpur dan licin, menyulitkan pengguna jalan serta meningkatkan risiko kecelakaan. Sebaliknya, pada cuaca terik, debu halus beterbangan dan menyelimuti permukiman, warung, serta area sekolah di sekitarnya. Perubahan ini tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi warga, tetapi juga menimbulkan bahaya kesehatan jangka panjang.
Sejumlah pedagang yang berjualan di sepanjang jalan menyatakan dampaknya sudah sangat terasa. Mereka menilai upaya pembersihan yang dilakukan pihak pelaksana proyek belum memadai. Meski PT Nindya Karya mengklaim telah melakukan penyiraman dan pembersihan secara rutin, warga melihat pelaksanaannya kurang efektif. Lumpur yang tercecer tidak dibersihkan secara menyeluruh, sementara penyiraman dinilai tidak menggunakan tekanan air yang cukup kuat.

“Ini sudah dalam kondisi parah. Perusahaan sepertinya tidak maksimal dalam pembersihan maupun penyiraman,” ujar salah seorang pedagang. Ia juga mengingatkan agar pihak pelaksana tidak bersikap abai hanya karena proyek ini merupakan program pemerintah pusat. “Jangan mentang-mentang program Presiden, pelaksana proyek jadi arogan dan tidak peduli,” tegasnya.
Dampak paling serius dirasakan pada kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak. Seorang warga mengungkapkan kekhawatirannya setiap kali mengantar dan menjemput anak ke sekolah di kawasan tersebut. Debu halus yang terus-menerus terhirup dikhawatirkan memicu masalah saluran pernapasan.
“Setiap pagi dan siang saya antar jemput anak, saya takut anak-anak terkena penyakit saluran pernapasan akibat debu ini,” katanya.
Baca juga : Kolonel Teguh Wiratama: TNI Siap Kolaborasi Wujudkan Pendidikan Memerdekakan di Era Digital
Sebagai bentuk protes damai, warga berencana menyusun surat keberatan resmi kepada pihak terkait. Mereka menuntut perbaikan segera agar proyek tidak justru menjadi beban bagi lingkungan sekitar.
Kepala Lingkungan (Kepling) Lingkungan III Padangmatinggi, Asri Anto Sibuea, menyatakan pihaknya tidak akan tinggal diam. Ia akan segera melayangkan surat keberatan resmi kepada PT Nindya Karya. Selain masalah debu, Asri juga menyoroti belum dilaporkannya data pekerja dari luar daerah.
“Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Data pekerja dari luar daerah saja belum dilaporkan. Ditambah lagi debu jalan ini sudah mengancam kesehatan, khususnya anak-anak,” tegas Asri.
Ia mendesak Pemerintah Kota Padangsidimpuan dan DPRD setempat untuk segera turun tangan melakukan pengawasan dan mediasi. Menurutnya, lambatnya respons bisa memicu reaksi spontan dari masyarakat yang sudah semakin tidak nyaman.
“Saya khawatir warga nanti bertindak sendiri. Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Nindya Karya belum memberikan respons resmi atas keluhan warga. Pembangunan Sekolah Rakyat yang digadang-gadang sebagai proyek strategis kini dihadapkan pada tantangan lingkungan yang harus segera diatasi agar manfaatnya tidak ternoda oleh dampak negatif di lapangan.
Pewarta: Indra Saputra


