RI News. Tapanuli Selatan – Enam bulan berlalu sejak banjir dan longsor menghantam Dusun Hasugian, Desa Siamporik Lombang, masyarakat Desa Sibongbong, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, masih terjebak dalam penderitaan berkepanjangan. Bendungan irigasi yang menjadi tulang punggung jaringan pengairan sawah dan lahan pertanian rusak parah, menyebabkan areal persawahan seluas sekitar 50 hektare mengalami gagal panen total.
Kekeringan yang melanda lahan pertanian dan pasokan air bersih ke pemukiman warga telah mengubah ritme kehidupan sehari-hari masyarakat yang mayoritas menggantungkan hidup dari bertani dan bersawah. Bukan hanya tanaman padi yang mati, aktivitas ekonomi warga pun lumpuh. Banyak petani yang tak lagi memiliki pekerjaan, sehingga kesulitan memenuhi kebutuhan pokok keluarga, termasuk biaya pendidikan anak-anak.
Seorang warga setempat yang enggan disebut namanya mengungkapkan kepada awak media saat pengecekan langsung ke lokasi, “Sudah enam bulan kami laporkan ke berbagai instansi, tapi hanya janji-janji yang tak kunjung terealisasi. Kami disuruh sabar, padahal sawah sudah tidak bisa ditanami sama sekali.”

Tokoh masyarakat di Sibongbong yang ditemui di sebuah warung dekat lokasi bendungan menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, khususnya Bupati Gus Irawan Pasaribu, segera turun tangan. “Kami hanya bergantung pada sawah dan kebun. Sudah enam bulan areal 50 hektare itu gagal total. Bagaimana kami memberi makan anak-anak dan menyekolahkan mereka kalau tidak ada perbaikan?” ujarnya dengan nada miris.
Kerusakan bendungan akibat banjir dan longsor tersebut tidak hanya memutus aliran irigasi ke sawah, tetapi juga mengganggu pasokan air bersih bagi rumah-rumah warga. Kondisi ini memperburuk beban ekonomi masyarakat yang sudah sulit sejak pasca-bencana.
Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi ke pemerintah daerah belum membuahkan hasil memuaskan. Beberapa kali kunjungan ke Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tapanuli Selatan tidak berhasil menemui Kepala Dinas Fahri Ananda Harahap. Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian Taufik Batubara menyatakan bahwa persoalan tersebut sudah diteruskan ke Dinas PUPR.
Baca juga : Mangkunegaran Run 2026: Olahraga, Budaya, dan Ekonomi Solo Berpadu dalam Euforia Massal
Upaya menghubungi Bupati Gus Irawan Pasaribu melalui pesan WhatsApp juga belum mendapatkan respons hingga saat ini.
Kasus ini menunjukkan betapa rentannya infrastruktur irigasi di daerah rawan bencana seperti Tapanuli Selatan. Tanpa penanganan cepat dan konkret, dampak sosial-ekonomi yang dirasakan masyarakat kecil akan semakin parah, berpotensi memicu masalah baru seperti kemiskinan dan migrasi penduduk.
Masyarakat Sibongbong kini hanya bisa berharap agar suara mereka didengar dan bendungan irigasi segera direhabilitasi sebelum musim tanam berikutnya berlalu sia-sia.
Pewarta : Adi Tanjoeng


