RI News. Linggo Sari Baganti, Pesisir Selatan – Di tengah upaya meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak kurang mampu di wilayah pedesaan Sumatera Barat, program beasiswa dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Painan menuai sorotan. Bantuan tersebut ditujukan untuk 25 siswa berprestasi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 39 Tanjung Bungo, Nagari Tanjung Bungo, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kabupaten Pesisir Selatan.
Penyaluran beasiswa masing-masing senilai Rp2,5 juta per siswa ini merupakan bagian dari komitmen BRI dalam mendukung pendidikan anak-anak kurang mampu. Bantuan diberikan agar siswa tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa terbebani biaya. Namun, di balik niat baik tersebut, muncul berbagai persoalan yang membuat orang tua siswa merasa kecewa dan curiga.
Menurut informasi yang dihimpun dari orang tua murid di lokasi sekolah pada 14 April 2026, kepala sekolah SDN 39 Tanjung Bungo dengan inisial N meminta kontribusi Rp300.000 per siswa dari penerima beasiswa. Dana itu disebut untuk membeli kipas angin guna mendukung kenyamanan belajar di dalam ruang rombel. Hingga kini, kipas angin yang dijanjikan tidak kunjung tersedia. Bahkan, kepala sekolah disebut membenarkan bahwa kipas tersebut “terbakar”, sehingga menimbulkan kecurigaan adanya pungutan liar (pungli) di kalangan warga.

Salah seorang orang tua yang enggan disebut namanya mengungkapkan kekecewaannya. “Anak kami berprestasi dan mendapat beasiswa untuk membantu pendidikan, tapi malah diminta uang lagi dengan alasan fasilitas sekolah. Sampai sekarang tidak ada hasilnya,” ujarnya.
Ketika dikonfirmasi oleh awak media, kepala sekolah mengakui adanya bantuan dari BRI. Ia juga menyebut bahwa pada tahun 2024 lalu, pihak sekolah menerima dana renovasi ruang belajar sebesar Rp750 juta. Namun, penjelasan tersebut tidak meredakan kekhawatiran orang tua terkait transparansi penggunaan dana.
Lebih jauh, warga setempat yang tidak ingin namanya disebutkan juga menyampaikan keluhan lain. Ruangan perpustakaan sekolah disebut-sebut dijadikan tempat berjualan makanan atau kantin oleh salah seorang guru yang mengajar di SDN 39 Tanjung Bungo. Hal ini dinilai mengurangi fungsi ruang perpustakaan sebagai sarana belajar siswa.
Sementara itu, Romi, Kepala Unit BRI Air Haji, saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa ia baru menjabat selama empat bulan di posisi tersebut. “Saya belum menjabat saat bantuan itu disalurkan,” katanya sambil tersenyum.
Baca juga : Rotasi Strategis Polres Tapanuli Selatan: Penyegaran Organisasi untuk Tingkatkan Pelayanan Masyarakat
Kasus ini mencerminkan tantangan dalam penyaluran bantuan pendidikan di daerah terpencil. Meski program beasiswa BRI bertujuan mulia untuk mendukung anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu, transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana serta fasilitas sekolah menjadi isu krusial yang perlu diawasi.
Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Selatan diharapkan segera melakukan verifikasi dan klarifikasi terhadap laporan ini guna memastikan bahwa setiap bantuan pendidikan benar-benar sampai dan dimanfaatkan untuk kepentingan siswa. Orang tua dan masyarakat juga diimbau melaporkan secara resmi jika menemukan indikasi penyimpangan, agar kepercayaan terhadap program kepedulian pendidikan tidak terkikis.
Peristiwa di Nagari Tanjung Bungo ini menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap pendidikan harus diiringi dengan tata kelola yang baik, transparan, dan bertanggung jawab. Hanya dengan demikian, generasi muda di pelosok Pesisir Selatan dapat benar-benar merasakan manfaatnya.
Pewarta: Sami S

