RI News. Wonogiri – Di tengah hamparan makam yang kini dipadati ratusan nisan dan candi, sebuah batu lonjong berbentuk kerucut masih berdiri sebagai saksi bisu sejarah lokal Dusun Jati, Desa Tanggulangin, Kecamatan Jatisrono. Batu tersebut bukan sekadar benda mati. Warga percaya, batu tindih anyaman tikar mendong ini perlahan mengembang menjadi lebih besar seiring berjalannya ratusan tahun, sekaligus menjadi simbol penghubung antara masa lalu dan kehidupan masyarakat hari ini.
Cerita tentang batu ini telah lama hidup dalam ingatan kolektif warga. Pada 1987, tiga sesepuh kampung—Noyo Karto, Boimin, dan Iro Mariman—sering membagikan kisah ini saat peringatan Bulan Suro maupun Hari Kemerdekaan RI. Menurut mereka, batu kecil itu dulunya adalah alat bantu seorang perempuan pengrajin tikar mendong. Setiap hari ia menganyam tikar dengan rumput mendong, sementara suaminya bekerja di ladang.
Ketika sang suami meninggal, batu tersebut diambil sebagai nisan pertama di atas gundukan tanah pemakaman. Perempuan itu kemudian menanam pohon jati dan pohon uprih di sekitarnya. Kini, lokasi tersebut telah berkembang menjadi makam umum Dusun Jati yang luasnya mencapai ribuan meter persegi. Pohon uprih yang melilit pohon jati pun menjadi penanda kuat asal-usul nama dusun.

Noyo Karto dan rekan-rekannya menuturkan bahwa batu itu menjadi tanda makam pertama di lokasi tersebut. Keberadaannya masih diyakini sebagai peninggalan leluhur yang langsung terhubung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat agraris dan pengrajin anyaman tempo dulu.
Pada 1989, tokoh masyarakat setempat kembali menghimpun keterangan dari narasumber lain, termasuk Somo Redi dan Boirejo. Kesaksian mereka memperkuat narasi bahwa batu lonjong kerucut itu memang berasal dari aktivitas anyaman tikar mendong.
Dari sudut pandang ilmiah, perubahan ukuran batu ini dapat dijelaskan melalui proses geologis yang dikenal sebagai mineralisasi. Air tanah yang kaya mineral meresap ke dalam pori-pori material organik awal, kemudian mengendapkan kalsit atau silika. Proses ini berlangsung selama ratusan hingga ribuan tahun, membuat benda yang semula kecil menjadi lebih besar, padat, dan keras, tanpa kehilangan bentuk aslinya yang khas.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa sejarah lokal tidak hanya tersimpan dalam cerita lisan, tetapi juga dalam bukti fisik yang terus berevolusi bersama alam.
Baca juga : Wonogiri Bangun Benteng Tangguh Bencana dari Tingkat Kecamatan
Sugiman, pengelola makam sekaligus ketua rombongan penggali kubur, mengungkapkan kondisi terkini. Makam yang dulunya hanya satu gundukan kini sudah penuh. “Sudah penuh. Kalau ada warga yang meninggal, kami terpaksa mencari lahan baru untuk pemekaran makam,” ujarnya.
Keberadaan batu tindih anyaman ini kini menjadi pengingat penting bagi generasi muda Dusun Jati. Di balik teksturnya yang kasar dan bentuknya yang semakin mengesankan, tersimpan kisah ketekunan seorang perempuan penganyam, kasih sayang terhadap suami, serta akar budaya anyaman mendong yang pernah menjadi bagian penting ekonomi rumah tangga di pedesaan Jawa tempo dulu.
Batu tersebut tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga mengajak kita merenung: betapa warisan leluhur, sekecil apapun, dapat terus tumbuh dan mengakar dalam ingatan sebuah komunitas.
Pewarta: Nandar Suyadi

