RI News. Semarang – Hujan deras dengan intensitas tinggi pada Sabtu (16/5/2026) memicu jebolnya talud tanggul sungai di RT 08 RW 04, Kelurahan Bambankerep. Luapan air berdebit tinggi langsung menerjang pemukiman warga, merendam ratusan rumah hingga ketinggian satu meter. Kejadian ini tidak hanya merusak harta benda, tetapi juga membangkitkan kembali trauma mendalam banjir bandang tahun 2010 yang pernah melanda wilayah tersebut.
Aparatur kelurahan setempat merespons cepat setelah menerima laporan. Lurah Bambankerep Agung Susilo, SE, bersama istri, Sekretaris Kelurahan, Babinsa, Babinkamtibmas, Ketua LPMK Bambankerep, serta perangkat kelurahan lainnya langsung turun ke lokasi. Mereka bersinergi dengan Ketua RW 04 Ifan Widianto untuk memimpin penanganan darurat, mengevakuasi warga, dan mendampingi korban yang terdampak.
Bagi sebagian besar warga, banjir kali ini terasa seperti mimpi buruk yang terulang. Air yang masuk secara mendadak ke dalam rumah mengingatkan mereka pada peristiwa banjir bandang 2010. Banyak yang masih ingat betapa dahsyatnya dampak saat itu, dan kini rasa waswas itu kembali muncul.

“Kami semua syok dan gemetar. Begitu air masuk cepat sampai satu meter, pikiran langsung melayang ke banjir bandang tahun 2010. Trauma itu mendadak muncul lagi. Banyak barang rumah tangga yang rusak, dinding rumah retak. Kami benar-benar sedih dan lelah harus menghadapi ini lagi,” ujar salah seorang warga dengan suara bergetar.
Koordinasi cepat pihak kelurahan membuahkan hasil positif. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera menyalurkan bantuan logistik darurat berupa tikar, selimut, paket sembako, dan karung pasir untuk tanggul sementara. Sementara itu, tim dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) turun langsung ke lokasi untuk melakukan kajian teknis terhadap kerusakan talud.
Lurah Agung Susilo, SE, mengapresiasi respons cepat berbagai pihak, namun menekankan urgensi perbaikan permanen. “Kami sudah berkoordinasi dengan dinas terkait agar bantuan logistik segera datang. Harapan kami, setelah peninjauan BBWS, perbaikan fisik talud dapat segera dilakukan agar warga tidak lagi khawatir menghadapi hujan susulan,” tegasnya.
Baca juga : Tragedi Longsor Batangtoru: Ibu dan Anak Hilang Diterjang Material Tanah Usai Hujan Deras
Senada dengan itu, Ketua RW 04 Ifan Widianto menyampaikan kekhawatiran terhadap cuaca yang masih ekstrem. Ia mendesak agar pembangunan kembali talud dilakukan dengan cepat sehingga warga bisa kembali tenang.
Ketua LPMK Bambankerep, Muji, turut mengajak partisipasi lebih luas. Ia mengetuk kepedulian pengusaha dan pihak swasta di sekitar wilayah untuk ikut memberikan bantuan. “Sinergi dan gotong royong dari semua pihak, termasuk pelaku usaha, sangat kami butuhkan untuk mempercepat pemulihan kondisi warga dan lingkungan,” harap Muji.
Di balik faktor cuaca ekstrem, warga dan tokoh masyarakat menyoroti kualitas konstruksi talud yang dianggap kurang memadai. Menurut mereka, susunan batu bata dan pembesian yang digunakan tidak cukup kuat untuk menahan debit air sungai yang besar.
“Sungai ini termasuk sungai besar. Tapi konstruksi tanggulnya hanya batu bata dan besinya kurang kokoh, tidak sesuai standar untuk menahan debit tinggi. Makanya langsung jebol saat debit naik tajam,” ungkap salah seorang warga.

Mereka berharap rekonstruksi talud mendatang menggunakan standar beton bertulang yang lebih kuat, sehingga dapat memberikan perlindungan jangka panjang dan memutus rantai trauma yang berulang di RW 04 Bambankerep.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak tentang perlunya pembangunan infrastruktur yang tangguh, respons pemerintah yang sigap, serta kepedulian sosial yang kuat. Di tengah ancaman hujan yang masih membayangi, warga Bambankerep kini bergantung pada komitmen pemangku kebijakan agar kedamaian segera kembali ke pemukiman mereka.
Semoga semangat kebersamaan dan uluran tangan dari berbagai pihak dapat membantu warga melewati masa sulit ini dengan ketabahan.
Pewarta: Sriyanto

