RI News. Labuan Bajo, 23 Juli 2026– Ancaman kebakaran di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) terus meningkat secara signifikan dalam tiga tahun terakhir, memicu kekhawatiran serius bagi keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Data Bidang Penanggulangan Kebakaran Satpol PP dan Damkar mencatat lonjakan kasus yang mengkhawatirkan, di tengah keterbatasan sarana dan prasarana pemadam yang masih minim.
Pada 2024 tercatat 12 kejadian kebakaran. Angka tersebut melonjak hampir dua kali lipat menjadi 23 kasus sepanjang 2025. Hingga pertengahan Juli 2026, sudah terjadi 15 kasus kebakaran. Peningkatan ini tidak hanya menghanguskan lahan dan bangunan, tetapi juga menimbulkan korban jiwa serta kerugian material yang cukup besar.
Kepala Satpol PP dan Damkar Mabar, Yeremias Ontong, menyatakan peningkatan kasus kebakaran menjadi perhatian utama pemerintah daerah. “Sepanjang 2026 kami lihat ada peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Kebakaran tidak hanya menghanguskan rumah warga, tapi juga lahan, bangunan usaha hingga fasilitas lain. Ini mengancam keselamatan dan menimbulkan kerugian besar,” kata Yeremias di ruang kerjanya, Rabu 22 Juli 2026.

Menurut Yeremias, kebakaran lahan terbuka mendominasi saat musim kemarau, terutama di kawasan perbukitan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo. Beberapa peristiwa besar mencatat kerugian lahan yang luas. Pada 11 Juni 2026, sekitar 19 hektare lahan di Bukit Silvia hangus terbakar. Beberapa hari kemudian, kawasan utara Plataran Resort hingga Mohini Resort dilanda api yang menghanguskan sekitar 11 hektare, disusul Bukit Amelia. Puncaknya terjadi pada 15 Juli 2026, ketika api melahap sekitar 100 hektare lahan di bukit utara Plataran Resort hingga Bukit Keranga. Beruntung, petugas berhasil memadamkan api sebelum merembet ke permukiman dan objek wisata.
Berbagai faktor menjadi pemicu. “Ada yang diduga disengaja, ada juga karena kelalaian seperti buang puntung rokok, bakar sampah tak diawasi. Cuaca panas dan vegetasi kering juga membuat api cepat menyebar,” jelas Yeremias. Sementara untuk kebakaran bangunan, penyebab utama adalah korsleting listrik dan kelalaian saat memasak.
Di balik tren peningkatan tersebut, kondisi Damkar Mabar sangat terbatas. Hanya mengandalkan satu unit mobil pemadam kebakaran dan satu unit mobil suplai air, ditambah 20 personel untuk melayani wilayah seluas Kabupaten Manggarai Barat. Yeremias berharap pemerintah daerah segera menambah armada dan personel. “Dengan wilayah seluas ini dan tren kebakaran yang naik, 1 mobil jelas tidak cukup. Kami butuh dukungan agar bisa merespons lebih cepat,” tegasnya.
Lonjakan kasus kebakaran ini tidak hanya berdampak pada keselamatan warga, tetapi juga mengancam sektor pariwisata Labuan Bajo yang tengah berkembang pesat. Tanpa penanganan yang lebih serius, ancaman api berpotensi menghambat upaya pelestarian alam dan peningkatan ekonomi masyarakat setempat.
Pewarta: Vitalis No
Tagline: #KebakaranMabar, #LabuanBajoRawanApi, #DamkarTerbatas, #AncamanKemarau, #ManggaraiBarat,

