RI News, 29 Juni 2026, Beirut — Di tengah kelelahan Gedung Putih terhadap konflik Israel-Hizbullah yang berkepanjangan, Presiden Donald Trump kembali mengemukakan pendekatan tak konvensional. Ia mendorong agar Suriah mengambil alih tugas memberantas kelompok militan yang didukung Iran tersebut, alih-alih terus bergantung pada operasi militer Israel.
Usulan ini muncul setelah Trump menyatakan kekecewaan atas lamanya perang Israel di Lebanon, yang telah menewaskan lebih dari 4.000 orang sejak Maret lalu. Menurutnya, pasukan Suriah yang telah berpengalaman dalam konflik internal akan lebih efektif dan tepat sasaran dalam menangani Hizbullah dibandingkan pendekatan militer Israel yang dinilainya terlalu destruktif terhadap infrastruktur sipil.
Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa menolak mentah-mentah gagasan tersebut. Dalam pidato dan wawancara terbaru, ia menegaskan bahwa Suriah tidak berniat melakukan intervensi militer ke Lebanon. Al-Sharaa menekankan fokus pemerintahannya saat ini adalah rekonstruksi negara pasca-perang saudara, pemulangan pengungsi, dan menjauhi konflik regional. Ia menyebut pernyataan Trump telah disalahartikan sebagai rencana invasi, padahal yang dimaksud adalah peran diplomatik dan solusi damai.

Meski demikian, Trump tetap mengulangi idenya dalam beberapa kesempatan, termasuk di sela KTT G7. Hal ini memicu kekhawatiran serius di Beirut dan Tel Aviv. Israel, yang telah menguasai sebagian wilayah selatan Suriah, memandang pemerintahan al-Sharaa dengan curiga karena latar belakang Islamisnya. Sementara di Lebanon, memori pendudukan Suriah di masa lalu masih membekas kuat di masyarakat.
Para analis menilai usulan Trump mencerminkan frustrasi Washington terhadap dinamika konflik yang tak kunjung usai. Namun, banyak pengamat mempertanyakan kelayakannya. Suriah sendiri masih bergulat dengan tantangan internal yang berat, termasuk membangun kembali institusi militer yang koheren dan mengelola kelompok-kelompok bersenjata dengan loyalitas yang beragam. Keterlibatan Turki sebagai pendukung utama Damaskus juga menambah kompleksitas, karena Ankara dan Tel Aviv saling berlomba memengaruhi masa depan Suriah.
Baca juga : Ketegangan Selat Hormuz Memuncak: Iran Ancam Putus Perundingan Damai Usai Serangan Balasan AS
Sejauh ini, pemerintahan Suriah menegaskan komitmen untuk tetap netral dalam konflik Israel-Hizbullah-Iran. Meski sempat terjadi ketegangan di perbatasan Lebanon-Suriah pada awal tahun, situasi berhasil diredam melalui diplomasi, termasuk peran Turki.
Usulan Trump ini, meski masih belum jelas tingkat keseriusannya dari pihak Gedung Putih, telah membuka babak baru diskusi tentang arsitektur keamanan regional pasca-jatuhnya rezim Assad. Banyak pihak mempertanyakan apakah pendekatan ini benar-benar dapat membawa stabilitas, atau justru berpotensi memicu konflik baru di kawasan yang sudah rapuh.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline: #TimurTengah, #TrumpSuriah, #Hizbullah, #KonflikLebanon, #DiplomasiRegional, #RekonstruksiSuriah, #GeopolitikAS,

