RI News, 29 Juni 2026 — Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali memanas setelah Iran meluncurkan serangan drone dan rudal terhadap Bahrain serta Kuwait pada hari Minggu, sebagai respons langsung terhadap serangan udara Amerika Serikat ke wilayahnya. Ancaman Teheran untuk menghentikan total perundingan damai dengan Washington semakin memperumit upaya de-eskalasi konflik yang tengah berlangsung.
Serangan Iran tersebut menyusul upaya internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa pengawasan penuh Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa hanya Republik Islam Iran yang berhak mengatur lalu lintas di selat strategis tersebut. Menurutnya, segala pengaturan baru yang tidak melibatkan Iran hanya akan memperburuk situasi, menunda pembukaan selat, dan meningkatkan risiko konflik lebih luas.
Selat Hormuz, yang secara historis menjadi jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia, kini menjadi pusat perselisihan geopolitik. Meskipun secara internasional diakui sebagai perairan terbuka, lokasinya yang berada di perairan teritorial Iran dan Oman membuat pengelolaannya sensitif. Dalam beberapa hari terakhir, Iran dilaporkan telah menyerang kapal-kapal yang melintas di jalur sisi Oman selama operasi evakuasi yang melibatkan PBB.

Perundingan sementara antara AS dan Iran, yang dimediasi oleh Pakistan, tengah membahas berbagai isu krusial, termasuk pengaturan Selat Hormuz, pencabutan blokade pelabuhan, penghapusan sanksi, serta pengelolaan stok uranium yang diperkaya Iran. Kesepakatan awal memberi waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk menyelesaikan detailnya. Namun, eskalasi militer terbaru ini mengancam kelangsungan proses tersebut.
Sementara itu, situasi di Lebanon turut memperkeruh suasana. Hizbullah kembali terlibat bentrokan dengan pasukan Israel, termasuk tewasnya seorang tentara Israel di Lebanon selatan. Meski Israel dan Lebanon telah menandatangani kerangka kesepakatan, Iran dan Hizbullah menolak ketentuan pelucutan senjata, sehingga proses perdamaian regional masih rapuh.
Serangan Iran terhadap Bahrain dan Kuwait tidak menimbulkan korban jiwa signifikan, meski sempat merusak sebuah bangunan sipil di Bahrain. Kedua negara tersebut merupakan sekutu penting AS di kawasan, dengan Bahrain menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Qatar juga melaporkan adanya korban sipil akibat serpihan dari operasi militer di perairan sekitar.
Baca juga : Menteri PPPA Arifah Fauzi: Lindungi Korban, Jangan Hakimi dan Sebarkan Konten Sensasional
Presiden AS Donald Trump dalam pernyataannya di media sosial menegaskan bahwa Iran telah melanggar gencatan senjata dan memperingatkan kemungkinan aksi militer lebih tegas jika situasi tidak terkendali. Di sisi lain, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih berlangsung meski di bawah ancaman tinggi, dengan jumlah perlintasan yang belum pulih ke level normal.
Eskalasi ini menunjukkan betapa kompleksnya dinamika keamanan di Timur Tengah, di mana isu maritim, nuklir, dan konflik proksi saling terkait. Para pengamat menilai keberhasilan perundingan mendatang akan sangat menentukan stabilitas pasokan energi global di masa mendatang.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline: #SelatHormuz, #KonflikIranAS, #TimurTengah, #GeopolitikEnergi, #PerundinganDamai, #StabilitasRegional,

