RI News. Jakarta – Negosiator Amerika Serikat dan Iran tiba di Swiss pada Sabtu untuk melanjutkan pembicaraan teknis yang krusial, bertujuan menyempurnakan kesepakatan sementara guna menghentikan eskalasi konflik di Timur Tengah. Langkah ini dilakukan hanya beberapa jam setelah Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon, menciptakan ketegangan baru yang mengancam stabilitas pasokan energi global.
Presiden Donald Trump langsung memberikan respons tegas dengan mengancam akan memberlakukan pungutan bagi kapal-kapal yang melintasi perairan strategis tersebut apabila kesepakatan akhir tidak tercapai dalam 60 hari. “Uang itu untuk jasa sebagai Malaikat Pelindung bagi negara-negara Timur Tengah,” ujar Trump, sebagaimana dikutip dari pernyataannya. Sementara itu, kesepakatan sementara masih memungkinkan lalu lintas bebas pungutan selama masa transisi tersebut.
Perundingan yang dimediasi Pakistan dan melibatkan Qatar ini dijadwalkan mulai Minggu, meski dimulai dengan suasana yang kurang menggembirakan. Wakil Presiden JD Vance tiba di Swiss pada Sabtu malam, diikuti delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, serta perwakilan bank sentral dan sektor minyak. Kesepakatan tersebut juga mencakup pencairan miliaran dolar aset Iran yang sempat dibekukan.

Pembicaraan sebelumnya sempat tertunda karena eskalasi kekerasan di Lebanon. Menurut sumber resmi yang enggan disebut namanya, mediator AS dan Qatar berhasil memfasilitasi kesepakatan sementara antara Israel dan kelompok Hezbollah untuk meredakan konflik di lapangan. Vance menyatakan optimisme bahwa kemajuan dapat dicapai baik dalam isu program nuklir Iran maupun gencatan senjata di Lebanon selatan.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa perundingan menuju kesepakatan final baru akan dimulai apabila komitmen utama dipenuhi. “Jika tidak, nota kesepahaman secara keseluruhan akan terancam,” tegasnya.
Selat Hormuz kembali menjadi sorotan utama. Iran mengklaim penutupan selat sebagai respons atas pelanggaran komitmen AS. Di sisi lain, Komando Pusat AS membantah klaim tersebut dan menyatakan lalu lintas kapal tetap berjalan normal, dengan 55 kapal dagang melintas pada Sabtu membawa lebih dari 17 juta barel minyak.
Kesepakatan sementara yang ditandatangani Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian memberikan tenggat 60 hari bagi para pihak untuk mencapai kesepakatan nuklir yang lebih komprehensif. Meski demikian, kompleksitas isu ini membuat perpanjangan waktu sangat mungkin terjadi.
Di lapangan, situasi di Lebanon masih memanas. Serangan Israel menewaskan sedikitnya 16 orang pada Sabtu, termasuk dua anak. Hezbollah disebut menembakkan puluhan roket, sementara militer Israel mengklaim telah menyerang puluhan target militan. Korban tewas akibat konflik Israel-Hezbollah terbaru telah melampaui 4.000 jiwa.

Baik Israel maupun Hezbollah bukanlah pihak penandatangan langsung dalam kesepakatan AS-Iran, sehingga komitmen mereka terhadap gencatan senjata masih bergantung pada dinamika politik internal masing-masing. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersikeras mempertahankan kehadiran pasukan Israel di Lebanon selatan hingga ancaman dianggap hilang, sementara Hezbollah menuntut penarikan penuh pasukan Israel.
Perkembangan ini menambah ketidakpastian bagi ekonomi global yang sudah rapuh, terutama pasokan energi dunia yang sangat bergantung pada Selat Hormuz. Para analis melihat perundingan di Swiss sebagai titik krusial yang menentukan apakah diplomasi dapat mengalahkan logika perang, atau justru konflik akan semakin meluas.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tagline : #TimurTengah, #SelatHormuz, #DiplomasiIranAS, #GencatanSenjataLebanon, #PerangIsraelHezbollah, #NuklirIran, #DonaldTrump, #BenjaminNetanyahu, #KrisisEnergiGlobal,

