RI News. Washington — Serangkaian serangan drone Israel di Lebanon selatan kembali menimbulkan korban jiwa yang signifikan, hanya sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan meredakan ketegangan antara Israel dan Hizbullah. Kejadian ini menunjukkan betapa rapuhnya proses diplomatik yang sedang berlangsung di tengah konflik berkepanjangan.
Menurut laporan resmi Lebanon, serangan pada Selasa menewaskan sedikitnya 11 orang, termasuk seorang dokter gigi bernama James Karam beserta anak laki-laki dan perempuannya. Serangan drone juga menimpa warga sipil lainnya, termasuk dua pekerja Suriah di sebuah pembibitan tanaman serta keluarga Abdullah yang kehilangan enam anggota keluarganya dalam serangan udara pada Senin.
Konflik ini berlangsung meski Trump menyatakan telah berkomunikasi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Hizbullah melalui perantara, serta menjamin tidak akan ada invasi darat ke Beirut. Namun, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Hizbullah tetap meluncurkan serangan balasan berupa rudal anti-tank dan drone, sementara Israel terus melanjutkan operasi militernya di wilayah perbatasan.

Para pengamat menilai situasi ini menjadi ujian serius bagi perundingan gencatan senjata yang sedang berlangsung di Washington. Putaran pembicaraan antara delegasi Lebanon dan pihak terkait merupakan yang pertama dalam lebih dari tiga puluh tahun. Lebanon menuntut gencatan senjata menyeluruh yang dapat menjamin keamanan jangka panjang dan memungkinkan lebih dari satu juta pengungsi kembali ke rumah mereka di selatan Lebanon.
Iran, sebagai pendukung utama Hizbullah, dilaporkan memutus komunikasi dengan mediator sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap proses perundingan. Hal ini semakin memperumit upaya mencapai kesepakatan yang lebih luas, terutama dalam konteks ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Republik Islam Iran.
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menegaskan bahwa dialog merupakan pilihan paling rasional dan paling murah bagi negaranya. “Perundingan adalah jalan terpendek untuk mengakhiri pendudukan dan memulangkan warga kami ke kampung halaman,” ujarnya. Namun, tekanan kemanusiaan terus meningkat seiring dengan semakin banyaknya warga yang terpaksa mengungsi dalam kondisi sulit.
Baca juga : Kanada Dorong Stabilitas Dagang Amerika Utara di Tengah Bayang-Bayang Ketegangan dengan Trump
Secara keseluruhan, konflik terbaru ini telah menewaskan lebih dari 3.400 orang di Lebanon dan melukai puluhan tentara Israel. Penggunaan drone serat optik oleh Hizbullah yang sulit dideteksi menjadi tantangan tersendiri bagi pertahanan Israel, sementara serangan balasan Israel terus menimbulkan korban sipil.
Situasi ini mengingatkan kembali bahwa tanpa komitmen nyata dari semua pihak untuk menghormati gencatan senjata, upaya diplomatik berisiko hanya menjadi jeda sementara di tengah siklus kekerasan yang berkepanjangan di Timur Tengah.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tag Line : #KonflikIsraelHizbullah, #GencatanSenjataLebanon, #SeranganDroneIsrael, #DiplomasiTimurTengah, #KrisisPengungsiLebanon, #PerundinganWashington, #NawafSalam, #BenjaminNetanyahu,

