RI News. Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan (month-to-month) pada Mei 2026 mencapai 0,28 persen, dengan kelompok transportasi menjadi salah satu penyumbang utama akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menegaskan bahwa sektor transportasi mengalami inflasi sebesar 0,61 persen secara bulanan, memberikan andil inflasi hingga 0,07 persen.
Menurut Pudji, kenaikan ini terutama didorong oleh naiknya harga bensin dan tarif angkutan udara, masing-masing dengan andil 0,02 persen. Sementara pelumas atau oli mesin serta solar turut menyumbang andil masing-masing 0,01 persen. “Ini terjadi seiring meningkatnya harga beberapa jenis BBM non-subsidi dan harga avtur,” ujar Pudji di Jakarta, Selasa.
Kenaikan harga avtur tercatat terjadi di seluruh bandara domestik sepanjang Mei 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini semakin diperburuk oleh penyesuaian harga LPG nonsubsidi yang dilakukan PT Pertamina (Persero) sebesar sekitar 19 persen pada 18 April 2026, yang dampaknya masih terasa hingga Mei. Penyesuaian tersebut mengikuti fluktuasi harga di pasar internasional.

Indeks Harga Konsumen (IHK) secara keseluruhan naik dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Selain transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan tekanan signifikan dengan inflasi 0,39 persen dan andil 0,12 persen. Komoditas pendorong utama di kelompok ini meliputi cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras. Di sisi lain, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang putih berperan sebagai penahan inflasi.
Dari sisi komponen, inflasi inti tercatat sebesar 0,22 persen dengan andil terbesar 0,14 persen. Komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi 0,52 persen, sementara komponen harga bergejolak naik 0,22 persen.
Secara tahunan (year-on-year), inflasi Mei 2026 mencapai 3,08 persen, naik dari level 108,07 pada Mei 2025. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali mendominasi dengan inflasi 4,94 persen dan andil 1,43 persen. Komponen inti menyumbang andil terbesar sebesar 1,66 persen (inflasi 2,59 persen), diikuti komponen harga bergejolak yang melonjak 6,24 persen (andil 1,02 persen).
Baca juga : Menelusuri Jejak Pangeran Sambernyawa: Wonogiri Historical Trip Kobarkan Semangat Sejarah Generasi Muda
Di pasar global, harga minyak sawit mengalami penurunan pada Mei 2026 setelah tren kenaikan sejak awal tahun. Sementara harga minyak mentah juga terkoreksi setelah mengalami kenaikan beruntun dari Januari hingga April.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi dan avtur ini menunjukkan kerentanan ekonomi domestik terhadap gejolak energi, meski sebagian komoditas pangan berhasil memberikan efek moderasi. Hal ini menjadi perhatian penting bagi kebijakan moneter dan subsidi energi ke depan agar tidak membebani daya beli masyarakat secara berlebihan.
Pewarta : Vie
Tag Line : #InflasiMei2026, #HargaBBM, #TransportasiInflasi, #AvturNaik, #EkonomiIndonesia, #BPSReport, #LPGNonsubsidi,

