RI News. Kyiv, Ukraina , 1 Juni 2026 – Dalam eskalasi konflik yang terus berlanjut, pasukan Ukraina kembali melancarkan serangkaian serangan drone jarak jauh terhadap fasilitas energi Rusia. Serangan ini menandai strategi Kyiv yang semakin agresif dalam melemahkan basis logistik perang Moskow.
Menurut laporan Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina, drone Ukraina berhasil menghantam Kilang Minyak Saratov di Rusia barat daya, memicu kebakaran besar. Kilang yang dikelola perusahaan negara Rosneft ini disebut telah menjadi pemasok penting bahan bakar bagi operasi militer Rusia. Jarak tempuh serangan mencapai sekitar 700 kilometer dari garis depan, menunjukkan kemampuan serangan presisi Ukraina yang semakin matang.
Serangan serupa juga dilaporkan terjadi di wilayah Rostov dan Kirov. Di Rostov, puing drone memicu kebakaran di depot bahan bakar, memaksa evakuasi penduduk sekitar. Sementara di Kirov, serangan menargetkan stasiun pompa Lazarevo yang berperan penting dalam pengiriman minyak dari Siberia ke Belarus. Pihak Rusia mengakui adanya kerusakan pada infrastruktur sipil, meski rinciannya masih terbatas.

Di tengah serangkaian serangan tersebut, ketegangan meningkat setelah Rusia menuduh Ukraina melakukan serangan drone terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia, pembangkit nuklir terbesar di Eropa. Kyiv dengan tegas membantah tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai upaya propaganda. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan adanya kerusakan pada bagian luar gedung turbin yang konsisten dengan dampak drone, namun tingkat radiasi di lokasi masih normal. Inspektur IAEA telah meminta akses lebih lanjut untuk investigasi.
Presiden Volodymyr Zelenskyy menyambut serangan terhadap Saratov sebagai “pencapaian signifikan” dalam menerapkan tekanan jangka panjang terhadap ekonomi perang Rusia. Strategi ini didasarkan pada argumen bahwa sektor energi Rusia menjadi tulang punggung pendanaan invasi yang telah memasuki tahun kelima.
Di sisi lain, Zelenskyy kembali menyoroti dugaan pelanggaran hak asasi manusia oleh Rusia. Ia menyatakan bahwa ribuan anak Ukraina yang dideportasi secara paksa diperlakukan seperti kombatan. Anak-anak tersebut diduga dilatih untuk memerangi sesama warga Ukraina, serta dipisahkan dari saudara kandungnya untuk diadopsi oleh keluarga Rusia. Tuduhan ini memperkuat sorotan internasional terhadap kejahatan perang yang diduga dilakukan Rusia, termasuk surat perintah penangkapan Presiden Vladimir Putin oleh Mahkamah Pidana Internasional.
Baca juga : Sinergi Nyata dari Desa: Bhabinkamtibmas dan Babinsa Tanam Jagung Hibrida Demi Ketahanan Pangan Nasional
Sementara itu, Rusia melanjutkan serangan balasan dengan meluncurkan ratusan drone ke wilayah Ukraina. Angkatan Udara Ukraina berhasil menjatuhkan sebagian besar drone tersebut, meski beberapa di antaranya menyebabkan korban jiwa dan kebakaran di Dnipro serta wilayah Rivne dan Chernihiv.
Konflik yang berkepanjangan ini tidak hanya berdampak pada infrastruktur militer dan energi, tetapi juga semakin memperburuk krisis kemanusiaan di kedua belah pihak. Pengamat internasional memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir berisiko tinggi memicu bencana lingkungan dan radiasi yang melampaui batas negara.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tag Line : #UkrainaRusia, #SeranganDrone, #Zaporizhzhia, #KonflikEnergi, #KrisisKemanusiaan, #Zelenskyy, #InvasiRusia, #BeritaInternasional,

