RI News.Jakarta, 16 Juli 2026 — Ekonom Universitas Indonesia Dipo Satria Ramli menekankan agar program perampingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui holding Danantara lebih difokuskan pada penyelesaian masalah perusahaan negara yang tidak produktif atau mengalami tekanan keuangan berkepanjangan, seraya tetap mengutamakan dampak positif bagi masyarakat luas.
Dipo mengapresiasi langkah strategis Danantara yang sedang berjalan untuk meningkatkan efisiensi dan mempertajam fokus bisnis BUMN. Menurutnya, banyak entitas yang selama ini dikenal sebagai “BUMN zombie” — perusahaan yang sudah tidak aktif atau memikul beban utang sangat besar — perlu segera ditangani.
“Langkah Danantara ini saya apresiasi karena memang cukup banyak BUMN zombie, yaitu perusahaan yang sudah tidak aktif atau memiliki beban utang yang besar,” ujar Dipo dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Pemerintah menargetkan jumlah entitas BUMN dapat menyusut drastis dari 1.077 menjadi sekitar 200–300 perusahaan pada akhir 2026. Hingga Juni 2026, sebanyak 218 entitas telah dirampingkan dengan proyeksi efisiensi mencapai Rp50 triliun.
Meski demikian, Dipo memberikan catatan penting. Ia mengingatkan bahwa proses merger dan konsolidasi jangan hanya berorientasi pada peningkatan valuasi atau perbaikan tampilan laporan keuangan semata.
“Beberapa merger terlihat hanya fokus pada valuasi dan accounting kosmetik, sehingga angka konsolidasinya terlihat lebih tinggi,” katanya.
Dipo menegaskan BUMN memiliki karakter khas yang berbeda dengan perusahaan swasta karena membawa mandat pelayanan publik di samping pencarian keuntungan. Oleh karena itu, setiap langkah restrukturisasi harus mempertimbangkan dampak sosialnya secara mendalam.
Baca juga: Tonggak Sejarah Energi Indonesia: Presiden Prabowo Resmikan Groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela
“BUMN tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga memiliki objektif sosial. Misalnya PLN, tujuannya bukan hanya laba, tetapi memastikan akses listrik yang baik bagi seluruh masyarakat,” tambahnya.
Menurut Dipo, perampingan akan lebih tepat sasaran jika difokuskan pada BUMN yang tidak sehat, tanpa mengorbankan tingkat kompetisi yang masih diperlukan di berbagai sektor strategis. Selain pengurangan jumlah entitas, restrukturisasi juga harus mencakup penyelamatan perusahaan-perusahaan yang memiliki peran penting bagi perekonomian nasional.
Ia juga menyoroti potensi efisiensi operasional yang dapat dicapai melalui merger, terutama dengan menyederhanakan fungsi-fungsi yang tumpang tindih.
“Umumnya merger memang menghasilkan efisiensi karena ada banyak peran yang tumpang tindih, terutama pada fungsi back office,” jelas Dipo.
Secara terpisah, Chief Executive Officer Danantara Investment Management Dony Oskaria menegaskan bahwa transformasi BUMN bukan sekadar soal efisiensi finansial, melainkan juga tanggung jawab besar kepada masyarakat dan generasi mendatang.
“Di samping melakukan transformasi pengelolaan BUMN, kami juga bertanggung jawab kepada seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana pengelolaan BUMN ini harus dapat kita wariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Dony.
Pewarta: Yogi Hilmawan
Tagline: #BUMNSehat, #Danantara, #RestrukturisasiBUMN, #EfisiensiNegara, #EkonomUI, #TransformasiBUMN,

