RI News. Beirut – Serangan yang terus berlanjut di Lebanon selatan semakin memperburuk akses bantuan kemanusiaan, kata Perserikatan Bangsa-Bangsa. Intensitas serangan tidak hanya memperlambat respons darurat, tetapi juga menghambat distribusi bantuan bagi ribuan warga sipil yang terjebak dalam konflik.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa sebuah jalan utama di distrik Marjayoun, provinsi Nabatieh, mengalami kerusakan akibat serangan pada Kamis, 28 Mei 2026. Jalan tersebut selama ini menjadi arteri vital untuk evakuasi medis, pergerakan tim bantuan, dan akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar.
Pada hari yang sama, serangan udara di berbagai lokasi Lebanon selatan menimbulkan korban jiwa dan luka yang signifikan. Sedikitnya delapan orang tewas di kota Maarakah, sementara tiga korban lainnya meninggal di wilayah berbeda. Selain itu, 37 orang mengalami luka-luka akibat serangan yang mengenai kamp pengungsi Palestina Al Buss.

Perintah pengungsian yang dikeluarkan di beberapa area memaksa warga meninggalkan rumah mereka. Meski demikian, sebagian penduduk memilih kembali ketika situasi keamanan dianggap membaik sementara. Tempat penampungan di kota Tyre dilaporkan sudah tidak mampu menampung lebih banyak pengungsi, sehingga ribuan orang terpaksa melanjutkan perjalanan menuju wilayah utara Lebanon.
Meski menghadapi berbagai hambatan keamanan, PBB beserta mitra kemanusiaannya tetap berupaya menyalurkan bantuan. Sejak awal eskalasi pada 2 Maret, Program Pangan Dunia (WFP) telah mendistribusikan lebih dari 11 juta makanan siap saji kepada warga terdampak. Sementara itu, badan pengungsi PBB (UNHCR) bersama mitra lokal menyediakan lebih dari 170 ribu selimut dan 130 ribu kasur untuk mendukung pengungsi yang kehilangan tempat tinggal.
Baca juga : Jejak Abadi Leluhur Jawa di Tepi Selat Melaka: Persilangan Budaya yang Menyatukan Serumpun
Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Lebanon, Imran Riza, menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya kekerasan dan dampak perintah pengungsian terhadap warga sipil. Ia juga mencatat adanya laporan warga yang terluka saat berusaha melarikan diri dari zona yang diperintahkan untuk dievakuasi.
Menurut data resmi pemerintah Lebanon yang dikutip OCHA, sejak eskalasi konflik pada 2 Maret lalu, sedikitnya 3.355 orang telah meninggal dunia dan 10.095 lainnya mengalami luka-luka. PBB kembali menegaskan pentingnya perlindungan terhadap warga sipil di tengah konflik yang berkepanjangan dan mendesak semua pihak untuk menghormati hukum humaniter internasional.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tag Line : #LebanonSelatan, #KonflikIsraelLebanon, #KrisisKemanusiaan, #BantuanPBB, #PengungsiLebanon, #OCHA, #PerlindunganSipil,

