RI News. Washington – Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz masih berlaku penuh. Pernyataan ini disampaikan di tengah pertimbangan Presiden Donald Trump untuk mencapai kesepakatan dengan Iran guna membuka kembali jalur strategis tersebut.
Hegseth menyampaikan hal tersebut pada Sabtu, 30 Mei 2026, saat menghadiri KTT Shangri-La Dialogue di Singapura. Ia menyebut isu penutupan Selat Hormuz menjadi salah satu topik utama dalam pembicaraan dengan berbagai pemimpin asing. Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman ini memang telah lama menjadi pusat ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran.
Konflik di kawasan tersebut bermula ketika Iran membatasi akses pelayaran pada awal eskalasi, yang menyebabkan gangguan signifikan terhadap lalu lintas kapal dagang internasional. Sebagai respons tegas, Amerika Serikat kemudian memberlakukan blokade angkatan laut, berhasil memutarbalikkan lebih dari 100 kapal komersial dan menonaktifkan empat kapal sejak pertengahan April lalu.

Persaingan pengendalian atas selat ini tidak hanya menjadi isu keamanan regional, melainkan juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global. Pemimpin Vietnam, Tô Lâm, turut menyoroti risiko besar yang ditimbulkan. Menurutnya, gangguan pada jalur vital seperti Selat Hormuz dapat dengan cepat memengaruhi rantai pasok perdagangan, harga energi dunia, serta kestabilan sosial-ekonomi berbagai negara.
Dalam perkembangan terbaru, kedua pihak dilaporkan sedang menggodok kesepakatan sementara yang mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Syarat utama yang diajukan meliputi pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran bebas, penghapusan biaya transit oleh Iran, serta pembersihan ranjau yang tersisa dalam waktu 30 hari.
Baca juga : Serangan di Lebanon Selatan Lumpuhkan Jalur Bantuan, PBB Peringatkan Krisis Kemanusiaan Semakin Parah
Sebagai imbalannya, pemerintahan Trump bersedia mencabut blokade secara bertahap apabila Iran memenuhi ketentuan tersebut. Meski demikian, hingga saat ini belum tercapai kesepakatan akhir. Presiden Trump sendiri menyatakan masih mempertimbangkan keputusan strategis terkait memorandum yang sedang dibahas.
Situasi ini mencerminkan dinamika kompleks antara pendekatan kekuatan militer dan upaya diplomasi yang sedang berlangsung. Para pengamat menilai hasil akhir negosiasi ini akan sangat menentukan arah stabilitas keamanan energi global ke depan.
Pewarta : Setiawan Wibisono
Tag Line : #SelatHormuz, #BlokadeAS, #PeteHegseth, #DonaldTrump, #IranAS, #DiplomasiTimurTengah, #KTTShangriLa, #GencatanSenjata, #EkonomiGlobal, #Geopolitik2026,

