RI News. Wonogiri – Membakar sate pada Hari Raya Idul Adha telah menjadi tradisi yang kerap dilakukan umat Muslim. Hal ini menyebabkan kebutuhan arang dan tusuk sate meningkat tajam menjelang hari kurban.
Para produsen arang dan penjual eceran pun dibanjiri pesanan. Salah satunya adalah Dinu, warga Desa Jatisari, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Selama lebih dari satu pekan terakhir, produksi arang Dinu meningkat signifikan. Jika biasanya ia hanya memproduksi di bawah satu ton per bulan, jelang Idul Adha kali ini produksinya sudah mencapai dua kali lipat.
“Alhamdulillah, menjelang Idul Adha permintaan arang meningkat tajam. Produksi saya melonjak dibanding biasanya yang hanya beberapa kuintal per bulan. Sekarang dalam satu pekan lebih kami sudah bisa memproduksi dua kali lipat,” ujar Dinu saat ditemui wartawan di lokasi produksi, Selasa (26/5/2026).

Dinu menjelaskan, permintaan arang tidak hanya datang dari wilayah Wonogiri, tetapi mayoritas berasal dari Sukoharjo dan Solo. Harga jual arang saat ini berkisar antara Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Ia menggunakan batang pohon jati dan sono kembang karena kayu jenis tersebut menghasilkan arang yang kuat dan berkualitas baik.
Biasanya, produksi arang Dinu lebih banyak diserap oleh para pandai besi di pasar lokal Wonogiri. Namun, stok sering kali tidak mencukupi, terutama pada musim hujan karena kesulitan proses pengeringan bahan baku.
Dalam pembuatan arang, kayu dipilah dan disusun rapi di dalam tungku pembakaran. Setelah tersusun, tungku ditutup rapat, menyisakan sedikit celah untuk memasukkan api.
Dinu memiliki tiga tungku di tempat produksinya. Dua tungku berukuran sedang memerlukan waktu lima hari untuk pembakaran, sedangkan satu tungku berukuran besar membutuhkan waktu hingga delapan hari. Setelah proses selesai, arang dikemas dalam karung dan diantarkan ke pemesan. Beberapa pedagang sate juga datang langsung mengambilnya.
Tradisi membakar sate biasanya dilakukan pada malam hari usai penyembelihan hewan kurban. Anak-anak muda berkumpul di suatu titik di lingkungan warga, saling membawa daging kurban dalam bungkusan plastik.
Selain arang, tusuk sate juga laris manis meski hanya dalam waktu singkat. Marti, salah seorang agen penjual arang dan tusuk sate sekaligus tusuk cilok di wilayah tersebut, mengaku stoknya habis dalam waktu dua hari sebelum hari kurban.
“Biasanya arang hanya dibeli pedagang sate ayam dan sate kambing, itu pun belum tentu setiap tiga hari. Tapi sekarang stok arang saya sudah menipis,” ucap Marti.
Pewarta: Nandar Suyadi

