RI News. Jakarta, 20 Mei 2026 – Koalisi aktivis pro-Palestina Global Sumud Flotilla (GSF) mengonfirmasi bahwa seluruh armada kapal dalam misi kemanusiaan terbaru mereka untuk menerobos blokade Jalur Gaza telah berhasil dicegat oleh pasukan Israel. Pernyataan ini menandai berakhirnya upaya pelayaran damai yang telah menjadi sorotan internasional sejak berangkat dari Eropa.
“Semua kapal telah dicegat. Kami menunggu informasi terbaru terkait penculikan ilegal mereka,” demikian pernyataan resmi GSF yang dirilis pada Selasa.
Konvoi pelayaran yang membawa bantuan kemanusiaan ini berangkat dari Barcelona, Spanyol, pada 15 April lalu. Misi ini dirancang sebagai bentuk solidaritas global terhadap warga Gaza yang terus menghadapi krisis kemanusiaan akibat blokade panjang. Namun, perjalanan armada tersebut diwarnai serangkaian insiden pencegatan.

Pada malam 29 hingga 30 April, aktivis melaporkan bahwa pasukan Israel telah mengambil alih salah satu kapal di perairan dekat Pulau Kreta. Setelah pengambilalihan, mesin kapal dan sistem navigasi sengaja dirusak sebelum pasukan tersebut meninggalkan kapal beserta awaknya. Insiden ini menjadi sinyal awal intensitas respons Israel terhadap inisiatif flotilla.
Puncaknya terjadi pada Senin, 18 Mei, ketika kapal-kapal misi kemanusiaan tersebut dikepung dan dicegat secara paksa oleh kapal perang Israel di perairan internasional, sekitar 250 mil laut dari pesisir Gaza. Lokasi pencegatan yang jauh dari wilayah territorial Israel ini kembali memicu perdebatan hukum internasional mengenai keabsahan tindakan di laut lepas.
Sebelum keberangkatan, pada akhir Maret, GSF telah mengumumkan rencana ambisius: melibatkan hingga 100 kapal dengan lebih dari 2.000 aktivis, relawan, serta tokoh masyarakat dari berbagai negara. Target tersebut mencerminkan skala solidaritas global yang semakin meluas terhadap isu Palestina, meski akhirnya dihadang sebelum mencapai tujuan.
Baca juga : Profesionalisme Jurnalistik sebagai Pilar Pencerahan Bangsa: Pesan Ketua PWI di Tengah Tantangan Etika
Pencegatan ini bukanlah kasus pertama bagi armada flotilla serupa. Namun, ukuran dan partisipasi internasional yang besar pada misi kali ini menarik perhatian lebih luas dari komunitas global, termasuk kalangan akademisi, organisasi hak asasi manusia, dan pengamat hukum maritim.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Israel mengenai status awak kapal dan muatan bantuan yang dibawa. GSF menyatakan akan terus memantau perkembangan dan mendesak komunitas internasional untuk menuntut akuntabilitas atas tindakan yang mereka sebut sebagai “penculikan ilegal di perairan internasional”.
Misi flotilla seperti ini terus menjadi simbol perlawanan sipil non-kekerasan terhadap blokade Gaza, sekaligus menguji batas-batas diplomasi dan hukum internasional di tengah konflik yang berkepanjangan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

