RI News. Serang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjadi inisiatif sosial, tetapi juga mesin penggerak ekonomi daerah. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten mencatat bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mampu menciptakan perputaran uang hingga Rp1 miliar per bulan di tingkat lokal.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten, Rawindra Ardiansah, menyampaikan hal tersebut saat berada di Kota Serang, Kamis. Menurutnya, ribuan titik pelayanan gizi yang tersebar di Banten kini aktif menggerakkan roda ekonomi dan penyerapan logistik produk lokal.
“Rata-rata kalau dari data per SPPG, perputaran ekonominya mencapai Rp1 miliar per bulan untuk MBG, dan di Provinsi Banten ini ada 1.084 SPPG,” ungkap Rawindra.

Ia menjelaskan bahwa lonjakan konsumsi pemerintah yang tercatat sebagai yang tertinggi belakangan ini sangat dipengaruhi oleh program-program prioritas nasional, termasuk MBG, Koperasi Merah Putih, dan program perumahan. Program-program ini tidak sekadar menyerap anggaran, melainkan menciptakan efek multiplier yang nyata di tingkat mikro.
Meski demikian, struktur perekonomian Banten tetap didominasi oleh konsumsi rumah tangga yang menyumbang sekitar 53 persen. Angka ini semakin terdorong oleh momentum Hari Besar Keagamaan yang meningkatkan aktivitas belanja masyarakat.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Banten mencapai 5,64 persen. Angka ini ditopang kuat oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi. Rawindra menilai tingkat kepercayaan investor masih tinggi, seiring berlanjutnya berbagai proyek strategis baik dari pemerintah pusat, daerah, maupun swasta.
“Sementara itu, untuk kinerja ekspor neto Banten tercatat sedikit melambat dibandingkan periode sebelumnya meski masih dalam tren positif,” ujarnya.
Baca juga : KPK Periksa Pejabat Kemenaker di Tengah Pengembangan Kasus Pemerasan Sertifikat K3
Pelambatan ekspor neto tersebut, menurut Rawindra, lebih banyak dipengaruhi oleh strategi pengusaha yang melakukan front loading impor. Mereka mempercepat jadwal impor bahan baku untuk mengamankan stok inventory di tengah ketidakpastian rantai pasok global akibat dinamika geopolitik.
Dengan demikian, program MBG tidak hanya berkontribusi pada aspek gizi dan kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu pilar penyangga pertumbuhan ekonomi Banten yang inklusif. Efek riil di tingkat SPPG menunjukkan bahwa kebijakan berbasis masyarakat dapat memberikan dampak ekonomi yang terukur dan berkelanjutan di daerah.
Pewarta: Anjar Bramantyo


