RI News. Jakarta – Film horor Lee Cronin’s The Mummy yang baru saja dirilis pada 17 April 2026 menawarkan pendekatan segar sekaligus ekstrem terhadap legenda mumi Mesir kuno. Berbeda dari film-film sebelumnya yang lebih berfokus pada petualangan aksi, sutradara Lee Cronin (Evil Dead Rise) mengubah cerita klasik ini menjadi horor keluarga yang sarat trauma, duka cita, dan elemen body horror yang sangat grafis.
Cerita berpusat pada keluarga Cannon, seorang jurnalis televisi bernama Charlie (Jack Reynor) dan istrinya Larissa (Laia Costa), seorang perawat. Kehidupan mereka di Kairo berubah menjadi mimpi buruk ketika putri sulung mereka, Katie yang berusia delapan tahun, hilang tanpa jejak ditelan badai pasir. Delapan tahun kemudian, keluarga yang telah pindah ke Amerika Serikat dan masih bergulat dengan kesedihan mendalam menerima kabar mengejutkan: Katie (diperankan Natalie Grace sebagai remaja) ditemukan hidup di dalam sarkofagus kuno berusia 3.000 tahun.
Detektif Dalia Zaki (May Calamawy) yang gigih membawa kabar tersebut, tetapi reuni yang seharusnya bahagia segera berubah menjadi mimpi buruk. Katie yang kembali bukan lagi anak yang sama. Tubuhnya menunjukkan tanda-tanda transformasi mengerikan, memaksa keluarga menghadapi kekuatan jahat kuno yang tampaknya telah merasuki putri mereka.

Cronin, yang dikenal dengan pendekatan horor visceral, kali ini mengeksplorasi tema kehilangan, rasa bersalah orang tua, dan proses penyembuhan trauma melalui lensa horor supranatural. Alih-alih mumi sebagai monster petualang, film ini lebih mirip dengan The Exorcist yang dikombinasikan dengan elemen body horror ala Sam Raimi — lengkap dengan adegan-adegan pengupasan daging busuk, serangga merayap, serta cairan tubuh yang ekstrem.
Dengan durasi 133–136 menit, film ini menjadi salah satu entri terpanjang dalam genre horor modern. Pendekatan ini menuai respons beragam dari para kritikus. Sebagian memuji kreativitas gore yang intens dan penampilan fisik luar biasa dari Natalie Grace, yang berhasil menyampaikan sosok anak yang menyeramkan sekaligus tragis. Adegan-adegan sadis seperti pemotongan kuku yang overgrown dan gangguan pada pita suara disebut banyak penonton sebagai momen yang benar-benar mengganggu dan efektif.
Namun, kelemahan utama film ini terletak pada durasi yang terlalu panjang dan klimaks yang cenderung jatuh ke pola horor generik. Beberapa pengamat menilai bahwa intensitas gore yang berlebihan justru membuat penonton merasa lelah, terutama karena kurangnya humor gelap yang biasanya menjadi ciri khas Cronin di film-film sebelumnya. Dialog yang kadang kaku dan penggunaan trope horor klasik juga menjadi catatan kritik.
Baca juga : Tragedi Penembakan Massal di Kyiv: Pelaku Ditembak Mati Setelah Sandera Warga di Supermarket
Film ini diproduksi oleh Blumhouse Productions, Atomic Monster (James Wan), dan New Line Cinema, serta didistribusikan oleh Warner Bros. Pictures. Ini merupakan film The Mummy pertama yang tidak berasal dari Universal Studios atau Hammer Film Productions, sehingga sepenuhnya berdiri sebagai reinvensi mandiri.
Bagi penggemar horor yang menyukai sensasi menjijikkan dan tidak keberatan dengan kekerasan grafis, Lee Cronin’s The Mummy menawarkan pengalaman yang memuaskan di bioskop akhir pekan. Namun, bagi penonton yang sensitif terhadap adegan mengerikan atau mencari cerita horor yang lebih seimbang, film ini mungkin terasa terlalu berat dan berlarut-larut.
Secara keseluruhan, karya terbaru Lee Cronin ini membuktikan bahwa legenda mumi masih memiliki ruang untuk dieksplorasi dengan cara yang lebih gelap dan pribadi. Meski tidak sempurna, film ini berhasil membangkitkan kembali rasa takut primal terhadap kejahatan kuno — kali ini bukan dari dalam makam, melainkan dari dalam rumah sendiri.
Pewarta : Vie

