RI News. Annaba, Aljazair – Dalam kunjungan bersejarah pertamanya ke Afrika sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo XIV melakukan ziarah spiritual ke reruntuhan Hippo di Annaba pada Selasa (14 April 2026). Di situs arkeologi yang menjadi tempat tinggal, pelayanan, dan karya agung Santo Agustinus pada abad ke-5, paus asal Amerika ini menegaskan akar Afrika dari salah satu pemikir Kristen terbesar sepanjang sejarah.
Kunjungan ini berlangsung di tengah hujan deras dan pengamanan ketat. Paus Leo berdoa di bawah tenda sambil memandang sisa-sisa teater, pasar, basilika, dan baptisterium kuno tempat Agustinus pernah berkhotbah. Sebagai simbol perdamaian, ia menanam pohon zaitun dan melepaskan burung merpati putih. Ditemani pemimpin Ordo Agustinus saat ini, Romo Joseph Farrell, paus kemudian berjalan di antara reruntuhan berlumpur sambil mendengarkan paduan suara lokal.
“Anak Santo Agustinus” — demikian Paus Leo menyebut dirinya sejak malam pemilihannya. Dalam tahun pertama kepausannya, ia kerap mengutip pemikiran Agustinus tentang kebenaran, kejahatan, rahmat, dan kehidupan bersama. Kunjungan ke Annaba menjadi penegasan bahwa bagi paus pertama dari Ordo Agustinus ini, santo asal Afrika Utara bukan sekadar inspirasi teologis, melainkan model utama dalam membangun jembatan dialog antaragama di era konflik global.

Dalam pertemuan dengan sekelompok biarawati dan lansia di Annaba, Paus Leo menyatakan, “Hati Allah hancur oleh perang, kekerasan, ketidakadilan, dan kebohongan.” Pesan ini semakin relevan mengingat seruan perdamaian paus sebelumnya yang sempat memicu ketegangan dengan pemerintahan Amerika Serikat terkait konflik di Iran. Kunjungan ke Aljazair merupakan pemberhentian pertama dalam tur apostoliknya ke empat negara Afrika.
Kunjungan ini juga menyoroti perspektif baru tentang Santo Agustinus. Lahir tahun 354 di Thagaste (kini Souk Ahras, Aljazair) dari ibu keturunan Berber dan ayah Romawi, Agustinus menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Afrika Utara. Ia hanya lima tahun berada di Italia sebelum kembali ke Hippo, mendirikan biara, menjadi uskup, dan menulis karya-karya monumental seperti Confessions (Pengakuan Iman) dan The City of God (Kota Allah).
Seorang ahli Agustinus dari Amerika, Catherine Conybeare, dalam bukunya Augustine the African menekankan bahwa pemikir besar ini sebenarnya berasal dari Afrika dan merasa asing dengan logat Punic-nya ketika berada di Roma. “Salah satu pemikir terpenting dalam tradisi intelektual Barat ternyata berasal dari Afrika dan menghabiskan hampir seluruh hidupnya di sini,” ujar Conybeare. Namun, karena warisan intelektualnya kemudian dikembangkan di Eropa, citra Agustinus sering kali disajikan secara Euro-sentris.
Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune menyambut kunjungan Paus Leo dengan menyatakan kebanggaan nasional. Ia menyebut Agustinus sebagai “putra kesayangan tanah ini, yang menjadi buaian pertamanya sekaligus tempat peristirahatan awalnya.”
Paus Leo sendiri mengakui bahwa perjalanan ini sangat pribadi. Ia pernah mengunjungi Hippo dua kali saat masih memimpin Ordo Agustinus. “Perjalanan ini seharusnya menjadi yang pertama dalam kepausan saya,” katanya di pesawat kepausan. Ia menambahkan bahwa Agustinus mewakili “jembatan penting dalam dialog antaragama” yang sangat dibutuhkan dunia saat ini.

Selain ziarah ke reruntuhan, Paus Leo mengunjungi komunitas kecil Agustinus di Annaba dan menutup hari dengan merayakan Misa di Basilika Santo Agustinus abad ke-19 yang menghadap situs kuno. Ribuan peziarah, termasuk umat Muslim, rutin mengunjungi basilika ini setiap tahun.
Dengan memilih Annaba sebagai titik awal tur Afrikanya, Paus Leo XIV tidak hanya menghormati akar rohaninya, tetapi juga menyampaikan pesan yang lebih luas: perdamaian dan rekonsiliasi harus dibangun di atas penghargaan terhadap sejarah bersama, bukan sekadar perbedaan agama atau budaya. Di tengah dunia yang masih dilanda konflik, kunjungan ini mengingatkan bahwa tanah Afrika bukan hanya tempat lahirnya Agustinus, melainkan juga sumber inspirasi abadi bagi upaya membangun kehidupan bersama yang lebih manusiawi.
Pewarta : Setiawan Wibisono

