RI News. Kebumen – Namanya tak pernah menghiasi headline berita utama. Tak ada baliho besar yang memajang wajahnya. Kirana hanyalah perempuan biasa yang suatu hari memilih jalan yang jarang ditempuh orang lain: berdiri di sisi mereka yang suaranya hampir tak pernah didengar.
Sejak keputusan itu diambil, hidup Kirana bukan lagi milik dirinya sendiri. Dedikasinya tunggal: mengembalikan anak-anak putus sekolah akibat kemiskinan ke bangku kelas, mendampingi ibu-ibu yang diusir dari rumah sendiri, serta menolong warga sakit yang tak memiliki BPJS apalagi ongkos ke puskesmas. Semua dilakukan tanpa sepeser pun upah. Bagi Kirana, cukup sudah melihat air mata berhenti mengalir dan senyum kecil muncul di wajah mereka yang pernah putus asa.
“Kalau bukan aku, siapa lagi?” ujarnya suatu kali, dengan suara pelan namun tegas.
Namun jalan pengabdian yang lurus, sering kali paling banyak duri. Aturan birokrasi yang seharusnya melindungi justru kerap menjadi tembok tebal. “Tidak sesuai prosedur,” kata pihak berwenang. Padahal perut kosong dan luka fisik tak bisa menunggu dokumen lengkap. Ancaman dan intimidasi pun menjadi teman sehari-hari. Handphone-nya pernah dirampas paksa di tengah jalan. Malam-malam ia pernah dicegat sekelompok orang tak dikenal di ruas sepi. Pernah pula dikeroyok dan disidang secara sepihak oleh orang-orang bertopeng yang menuduhnya “mengomong begini dan begitu”.

Kirana tak pernah membalas dengan kebencian. Ia hanya menceritakan fakta, satu per satu, tentang watak toksik yang bersembunyi di balik jubah kewibawaan. Tujuannya sederhana: agar orang baik tahu dan berhati-hati.
“Kalau aku mati di jalan ini, berarti itu sudah ketentuan Ilahi,” katanya tenang. “Lalu kenapa harus takut?”
Yang paling ia takutkan hanyalah murka orang tua dan murka Tuhan. Dua hal itu saja. Selebihnya, ia sudah bulat tekad sejak memutuskan terjun ke dunia yang penuh warna—dari putih bersih hingga hitam pekat. Baginya, dunia seperti pelangi: indah justru karena tak pernah seragam.
Yang paling menyayat hati adalah fakta bahwa bahkan dalam kerja sosial dan kesehatan masyarakat, Kirana tetap tak luput dari fitnah dan penindasan. Ia tak mencari nama, tak mencari harta. Ia murni. Namun justru karena kemurnian itu, ia menjadi sasaran.
Baca juga : Membangun Generasi Pemimpin Berkarakter: SMP Negeri 6 Pemalang Latih OSIS Bersama TNI AL
“Jadi Kirana itu tidak mudah,” bisiknya pelan. “Kalau kalian iri sampai berubah toksik, cobalah dulu jadi aku. Rasakan jatuh-bangunnya, malam dingin tanpa jaminan besok masih hidup. Ini bukan ujug-ujug. Ini jalan yang dipilih dengan darah dan air mata.”
Hari ini Kirana masih melangkah. Pelan, tapi tak pernah berhenti. Di ujung doanya, hanya satu permintaan: “Doakan aku tetap istiqomah di jalan ini. Berjihad sesuai kemampuan, sesuai pesan almarhumah Ibu dan Eyang. Agar kelak aku bisa pulang dan berkata, ‘Aku sudah menunaikan amanahmu, Bu… Eyang…’”
Di luar sana, ribuan “Kirana” lain tengah berjuang dalam diam. Mereka tak butuh tepuk tangan meriah. Mereka hanya butuh ruang untuk bernapas—dan agar kita tidak ikut menjadi bagian dari mereka yang menghalangi.
Karena dunia ini tak pernah kekurangan orang pintar. Yang langka adalah orang yang peduli tanpa pamrih.
Pewarta: Tur Hartoto.

