RI News. Odesa, 7 April 2026 – Serangkaian serangan drone lintas batas antara Rusia dan Ukraina kembali menimbulkan korban jiwa di kalangan sipil dan kerusakan signifikan pada infrastruktur energi strategis. Kejadian ini memperlihatkan pola perang yang semakin bergeser dari pertempuran darat menuju pertarungan drone jarak jauh yang memengaruhi kehidupan sehari-hari dan rantai pasok global.
Pada malam menuju Senin, serangan drone Rusia terhadap kota pelabuhan Odesa di selatan Ukraina menewaskan tiga warga sipil, termasuk dua perempuan dan seorang balita berusia dua tahun. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan berat pada sebuah blok apartemen hunian. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi beberapa korban dari puing-puing di bawah cahaya lampu sorot, sementara sebelas orang lainnya, termasuk seorang ibu hamil dan dua anak kecil, harus dirawat di rumah sakit akibat luka-luka.
Serangan serupa juga melanda wilayah Kherson dan Nikopol, menewaskan seorang perempuan lanjut usia serta melukai tujuh orang lainnya, dengan satu korban berusia 62 tahun berada dalam kondisi kritis. Di Kharkiv, tiga warga terluka akibat serangan drone tambahan. Selain korban manusia, Rusia juga kembali menyasar infrastruktur energi Ukraina di wilayah Chernihiv, Sumy, Kharkiv, dan Dnipro, menyebabkan lebih dari 300 ribu rumah tangga kehilangan pasokan listrik.

Di sisi lain, Ukraina melancarkan serangan balasan menggunakan drone jarak jauh yang mampu menjangkau hingga 1.500 kilometer ke dalam wilayah Rusia. Target utama adalah terminal minyak Novorossiysk, salah satu pelabuhan ekspor minyak terbesar Rusia di Laut Hitam. Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, serangan tersebut merusak pipa, dermaga bongkar muat, serta memicu kebakaran pada empat tangki penyimpanan produk minyak bumi. Kerusakan juga melanda aset Konsorsium Pipa Kaspia yang melibatkan perusahaan asal Amerika Serikat dan Kazakhstan.
Gubernur Krasnodar melaporkan delapan orang terluka, termasuk dua anak kecil, serta kerusakan pada enam gedung apartemen dan dua rumah pribadi. Ukraina juga mengklaim telah menghantam kapal fregat Admiral Makarov dan sebuah rig pengeboran di Laut Hitam, meskipun pihak Rusia belum memberikan komentar resmi atas klaim tersebut. Rusia melaporkan berhasil menembak jatuh puluhan drone Ukraina dalam satu malam.
Serangan Ukraina terhadap fasilitas minyak Rusia ini terjadi di tengah upaya Moskow untuk meningkatkan ekspor energi menyusul keringanan sanksi sementara dari pemerintahan Amerika Serikat. Pejabat Kyiv menyatakan kekhawatiran bahwa pendapatan tambahan tersebut akan digunakan Rusia untuk membiayai produksi senjata baru guna melanjutkan serangan terhadap Ukraina.
Baca juga : Pemilu Hongaria 2026: Ujian Terberat Bagi Viktor Orbán dan Masa Depan Kesatuan Eropa
Presiden Volodymyr Zelenskyy menyampaikan keprihatinan mendalam bahwa konflik di Timur Tengah semakin menguras stok senjata global, khususnya sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika yang sangat dibutuhkan Ukraina untuk menangkal rudal dan drone Rusia. Dalam pernyataannya, Zelenskyy menekankan perlunya kerja sama internasional yang lebih kuat untuk memperkuat pertahanan udara guna meningkatkan tingkat keberhasilan intersepsi.
“Dalam situasi di mana upaya perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat mengalami kebuntuan, Rusia menunjukkan tidak ada niat untuk menghentikan invasinya,” ujar Zelenskyy. Lebih dari empat tahun sejak invasi Rusia dimulai, Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat lebih dari 15.000 korban jiwa sipil di Ukraina.
Perkembangan terbaru ini menandakan fase baru dalam konflik yang berkepanjangan: perang drone yang tidak hanya menargetkan sasaran militer, tetapi juga infrastruktur sipil dan ekonomi. Analis mencatat bahwa serangan balasan Ukraina terhadap pelabuhan ekspor minyak Rusia berpotensi mengganggu rantai pasok energi global, sementara serangan Rusia terhadap kota-kota Ukraina semakin memperburuk krisis kemanusiaan dan infrastruktur.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang efektivitas sanksi internasional, ketahanan ekonomi Rusia, serta kemampuan Ukraina mempertahankan diri di tengah pergeseran prioritas dukungan Barat akibat konflik lain di dunia.
Berita ini disusun berdasarkan laporan resmi dari kedua pihak dan pernyataan pejabat terkait, dengan penekanan pada verifikasi fakta di lapangan yang terus berkembang.
Pewarta : Anjar Bramantyo

