Diplomasi melalui mediator masih berjalan meski Teheran tolak gencatan senjata sementara dan Israel tingkatkan tekanan militer.
RI News. Iran – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mempertegas ancamannya terhadap Iran dengan menargetkan seluruh pembangkit listrik dan jembatan di negara tersebut. Ancaman ini disampaikan Senin (6 April 2026) saat batas waktu ultimatum semakin mendekat, menyusul penolakan Teheran atas usulan gencatan senjata selama 45 hari.
Dalam pernyataannya, Trump menyatakan bahwa “seluruh negara itu bisa dihancurkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam.” Ia menegaskan bahwa batas waktu Selasa pukul 20.00 waktu Timur Amerika Serikat merupakan batas akhir, setelah sebelumnya memberikan beberapa perpanjangan waktu kepada Iran.
Amerika Serikat menuntut Iran segera membuka kembali Selat Hormuz bagi seluruh lalu lintas kapal. Selat yang menjadi jalur pengiriman sekitar seperlima minyak dunia ini telah ditutup Iran sejak pecahnya konflik pada akhir Februari lalu. Ancaman serangan terhadap infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan memicu kekhawatiran luas dari kalangan ahli hukum internasional, yang menyebutnya berpotensi melanggar hukum perang.

“Setiap serangan terhadap infrastruktur sipil merupakan pelanggaran hukum internasional yang sangat jelas,” tegas juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa Stephane Dujarric.
Sementara itu, Israel memperberat tekanan dengan melancarkan serangan terhadap pabrik petrokimia utama di ladang gas alam South Pars – ladang gas terbesar di dunia yang juga dimanfaatkan Qatar. Serangan tersebut disebut Israel sebagai upaya memutus sumber pendapatan utama Iran. Selain itu, Israel juga melaporkan telah menewaskan dua perwira senior Garda Revolusi Iran, termasuk kepala intelijen pasukan paramiliter tersebut.
Teheran menolak proposal gencatan senjata sementara dan menyampaikan rencana damai 10 poin melalui Pakistan sebagai mediator utama. “Kami hanya menerima penghentian perang dengan jaminan bahwa kami tidak akan diserang lagi,” ujar Mojtaba Ferdousi Pour, kepala misi diplomatik Iran di Kairo. Iran menyatakan tidak lagi mempercayai administrasi Trump setelah serangan udara Amerika Serikat sebelumnya selama putaran pembicaraan.
Baca juga : Demokrasi Guyub di Bambankerep: Mudji Laksono Terpilih Pimpin LPMK 2026-2030
Meski demikian, upaya diplomasi belum sepenuhnya runtuh. Seorang pejabat regional yang terlibat dalam perundingan mengungkapkan bahwa pembicaraan dengan kedua belah pihak masih berlangsung. Pejabat Mesir, Pakistan, dan Turki telah menyampaikan proposal gencatan senjata dan pembukaan Selat Hormuz kepada pihak Iran dan Amerika Serikat. Sementara itu, pejabat Iran dan Oman sedang menyusun mekanisme pengelolaan selat tersebut.
Trump sendiri mengakui bahwa negosiasi masih terus dilakukan, meskipun retorikanya kali ini jauh lebih tegas dibandingkan ultimatum sebelumnya. Ia bahkan menyatakan tidak khawatir dengan tuduhan kejahatan perang dan berpendapat bahwa rakyat Iran “bersedia menderita demi kebebasan”. Namun hingga kini, belum terlihat tanda-tanda pemberontakan massal di Iran, di mana warga sipil terus berlindung dari serangan udara.
Dampak kemanusiaan konflik ini semakin terasa. Lebih dari 1.900 orang dilaporkan tewas di Iran sejak perang dimulai, meski pemerintah Iran jarang memperbarui data korban. Di Lebanon, lebih dari 1.400 korban jiwa dan lebih dari satu juta warga mengungsi akibat operasi militer Israel terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Puluhan korban juga tercatat di wilayah Teluk Arab, Tepi Barat, dan Israel, termasuk 13 anggota militer Amerika Serikat.

Serangan Israel terhadap tiga bandara di Teheran dan pembunuhan pejabat tinggi Iran menunjukkan bahwa front militer terus aktif meski jalur diplomasi masih terbuka. Warga Teheran melaporkan suara ledakan dan drone yang hampir terus-menerus, serta kekhawatiran akan pemadaman listrik, gas, dan air bersih.
Konflik ini tidak hanya mengancam stabilitas Timur Tengah, tetapi juga perekonomian global akibat gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz. Para pengamat menilai bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil berisiko memicu eskalasi yang lebih luas dan sulit dikendalikan, terutama jika melibatkan lebih banyak aktor regional.
Upaya mediator internasional kini menjadi harapan terakhir untuk mencegah “malam yang menghancurkan” yang dijanjikan Trump. Namun dengan posisi kedua belah pihak yang semakin mengeras, prospek perdamaian permanen masih jauh dari harapan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

