RI News. Semarang, 6 April 2026 – Seekor paus abu-abu (Eschrichtius robustus) yang masih muda ditemukan mati di Sungai Willapa, Washington, Amerika Serikat. Kejadian ini menjadi pengingat nyata akan tekanan lingkungan yang dihadapi populasi paus abu-abu timur Pasifik, terutama akibat kelangkaan makanan di perairan Arktik.
Paus tersebut sempat menyusuri sekitar 32 kilometer ke hulu sungai kecil yang bermuara di Teluk Willapa. Penemuan bangkainya pada Sabtu (4 April 2026) di dekat Raymond, Pacific County, mengejutkan banyak pihak. Menurut John Calambokidis, ahli biologi dari Cascadia Research Collective, paus itu kemungkinan besar didorong oleh rasa lapar yang ekstrem untuk mencari wilayah mencari makan baru.
“Paus abu-abu sedang menghadapi krisis besar, dan intinya adalah kesulitan mendapatkan makanan di wilayah Arktik,” ujar Calambokidis. Migrasi musim semi yang panjang—sejauh lebih dari 8.000 kilometer dari laguna-laguna Baja California, Meksiko, menuju Alaska—merupakan periode paling berat bagi spesies ini. Selama perjalanan itu, paus tidak makan dalam waktu lama dan harus mengandalkan cadangan lemak tubuhnya.

Sejak 2019, populasi paus abu-abu timur Pasifik mengalami penurunan signifikan. Badan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Fisheries pernah menyatakan Unusual Mortality Event (UME) dari akhir 2018 hingga akhir 2023, dengan tercatat 690 kasus paus terdampar dari Alaska hingga Meksiko. Penyebab utamanya adalah perubahan ekosistem di area makan sub-Arktik dan Arktik yang menyebabkan berkurangnya pasokan makanan, malnutrisi, penurunan tingkat kelahiran, serta peningkatan kematian.
Meski sempat ada harapan pemulihan, sensus terbaru pada musim dingin 2025 justru menunjukkan tren penurunan yang berlanjut. Jumlah populasi diperkirakan hanya sekitar 13.000 ekor—angka terendah sejak era 1970-an. Banyak individu paus yang teramati dalam kondisi sangat kurus dan kekurangan nutrisi.
Kejadian paus muda ini masuk ke cabang utara Sungai Willapa pada Rabu (1 April 2026) melalui Teluk Willapa, sekitar 298 kilometer barat daya Seattle. Warga setempat sempat berkumpul di jembatan-jembatan untuk melihat mamalia raksasa tersebut menyemburkan udara melalui lubang napasnya. Meski terlihat kurus, paus itu awalnya berperilaku normal dan tidak menunjukkan tanda-tanda cedera.
Baca juga : Fenomena Super Mario Galaxy Movie: Ketika Kritik Profesional Kalah dari Antusiasme Penonton Keluarga
Para peneliti dari Cascadia Research Collective awalnya memberi ruang bagi paus untuk keluar dari sungai secara alami. Namun pada Jumat, hewan tersebut sudah bergerak lebih jauh ke hulu, memasuki perairan yang sulit dijangkau perahu. Upaya pemeriksaan bangkai akan dilakukan sesegera mungkin untuk mengetahui penyebab kematian yang lebih pasti.
Kejadian ini bukan kasus terisolasi. Para ahli melihatnya sebagai gejala lebih luas dari perubahan ekosistem di Laut Bering utara dan Laut Chukchi akibat pemanasan global. Berkurangnya es laut dan perubahan rantai makanan di Arktik telah mengganggu ketersediaan amphipoda dan krustasea kecil yang menjadi makanan utama paus abu-abu.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengancam ketahanan populasi paus abu-abu yang pernah pulih dari ambang kepunahan berkat upaya konservasi internasional. Para peneliti menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan serta langkah mitigasi perubahan iklim untuk melindungi habitat makan di wilayah kutub.
Penelitian lebih lanjut terhadap bangkai paus ini diharapkan memberikan data berharga untuk memahami dampak lingkungan terhadap mamalia laut migran besar.
Pewarta : Vie

