RI News. Jakarta – Indonesia mencatat pencapaian luar biasa dalam sektor pangan nasional. Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah melampaui angka 4,3 juta ton per akhir Maret 2026. Angka ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah dan mencerminkan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kemandirian pangan di tengah ketidakpastian geopolitik dunia.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan hal tersebut dalam pernyataannya di Jakarta, Senin. “Untuk sektor pangan, alhamdulillah hari ini tertinggi sepanjang sejarah. Stok kita 4,3 juta ton. Tidak pernah terjadi. Tahun lalu maksimal 4,2 juta ton. Hari ini 4,3 juta ton. Bulan depan bisa mencapai 5 juta ton,” ujar Amran.
Menurutnya, capaian ini didukung oleh strategi penyerapan produksi beras dalam negeri yang masif. Pemerintah bahkan menyewa gudang tambahan dengan kapasitas 2 juta ton di luar kapasitas gudang existing sebesar 3 juta ton untuk menampung stok yang terus bertambah. “Ini selesai, pangan selesai,” tegas Amran.

Capaian stok CBP yang melimpah ini tidak lepas dari keberhasilan swasembada beras yang diraih Indonesia sepanjang tahun 2025. Swasembada tersebut menjadi pilar utama strategi nasional menghadapi dinamika geopolitik global, termasuk konflik di berbagai kawasan yang berpotensi mengganggu rantai pasok pangan internasional.
Amran menekankan pentingnya visi kemandirian yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto. “Di saat kondisi geopolitik yang memanas, kita butuh langkah cepat. Bapak Presiden betul-betul visioner. Pada saat beliau dilantik, langsung mengatakan pangan diselesaikan, harus mandiri pangan dan mandiri energi,” katanya.
Data Bapanas menunjukkan peningkatan stok CBP yang sangat signifikan. Pada akhir Maret 2026, volume CBP mencapai 4,3 juta ton, melonjak 274,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang hanya berada di kisaran 1,1 juta ton. Sementara dibandingkan Maret 2025 dengan stok sekitar 2,3 juta ton, terjadi kenaikan hingga 87,3 persen. Penyerapan beras produksi domestik terus berlanjut, sehingga diproyeksikan stok akan semakin tebal di bulan-bulan mendatang.
Baca juga : Polres Wonogiri Siapkan “Kawan Demokrasi” dan Tim Khusus Hadapi Potensi Unjuk Rasa
Ketebalan stok cadangan beras yang mengutamakan produksi dalam negeri turut memberikan efek positif terhadap kestabilan harga di tingkat konsumen. Amran menjelaskan bahwa selama bulan Ramadhan tahun ini, beras tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi—sebuah perubahan yang kontras dengan pola 10 hingga 20 tahun sebelumnya.
“Jadi Alhamdulillah, bulan suci Ramadhan bukan harga beras menjadi penyumbang inflasi. Dan 10 sampai 20 tahun terakhir, biasanya nomor satu penyumbang inflasi adalah beras,” jelasnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mendukung pernyataan tersebut. Inflasi beras secara bulanan hingga Februari 2026 tercatat hanya sebesar 0,43 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan puncak inflasi beras historis, seperti 2,30 persen pada Desember 2022, 5,61 persen pada September 2023, 5,28 persen pada Februari 2024, dan 1,35 persen pada Juli 2025. Sejak Juni 2024, inflasi beras bulanan bahkan tidak pernah melampaui 2 persen, menandakan keberhasilan pengendalian harga dari tingkat produsen hingga konsumen selama hampir dua tahun terakhir.
Baca juga : Polres Wonogiri Siapkan “Kawan Demokrasi” dan Tim Khusus Hadapi Potensi Unjuk Rasa
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya memberikan apresiasi tinggi kepada jajarannya atas upaya menjaga stabilitas harga pangan, khususnya selama Ramadhan. Dalam sesi wawancara yang diunggah pada pertengahan Maret 2026, Prabowo menyatakan, “Dengan perang, harga pangan bisa naik. Tapi saya mau tanya, ini bulan Ramadhan, harga pangan terkendali atau tidak? I think we are doing a good job.”
Menurut Presiden, sektor pangan merupakan esensi kedaulatan bangsa yang harus dijamin ketercukupannya secara mandiri. Persiapan Indonesia sejak dini untuk menghadapi gejolak eksternal, termasuk dampak konflik Timur Tengah, telah membuahkan hasil nyata berupa stok yang melimpah dan harga yang terkendali.
Capaian ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang mampu berdiri di atas kaki sendiri di sektor pangan. Dengan terus mendorong produksi dalam negeri dan pengelolaan cadangan yang efektif, pemerintah menunjukkan komitmen kuat untuk mewujudkan ketahanan pangan jangka panjang, sekaligus melindungi daya beli masyarakat di tengah berbagai tantangan global.
Pewarta : Yudha Purnama

