RI News. Islamabad – Memasuki bulan kedua konflik bersenjata antara Amerika Serikat beserta Israel melawan Iran, Pakistan secara resmi menawarkan diri menjadi tuan rumah pembicaraan damai. Langkah ini menandai upaya diplomatik baru di tengah eskalasi yang telah menewaskan ribuan orang dan mengganggu stabilitas ekonomi global.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyatakan bahwa negaranya merasa terhormat atas kepercayaan yang diberikan baik oleh Iran maupun Amerika Serikat. “Pakistan akan dengan senang hati memfasilitasi pembicaraan yang bermakna antara kedua pihak dalam waktu dekat,” ujar Dar setelah pertemuan para diplomat senior dari Turki, Mesir, dan Arab Saudi di Islamabad.
Pertemuan tersebut berlangsung pada hari Minggu, meskipun belum ada konfirmasi resmi dari Washington maupun Tehran mengenai format pembicaraan—apakah langsung atau melalui perantara. Para diplomat dari ketiga negara tersebut telah kembali ke ibu kota masing-masing, sementara pembicaraan lanjutan yang semula direncanakan Senin tampaknya masih menunggu perkembangan.

Pakistan memiliki posisi yang relatif netral dan hubungan baik dengan berbagai pihak yang terlibat. Hubungan Islamabad dengan Washington tetap kuat, sementara ikatan dengan Tehran juga terjaga meski tegang. Pejabat Pakistan menyebut upaya ini sebagai hasil diplomasi senyap selama beberapa minggu terakhir, yang kini mulai membuahkan hasil berupa pertemuan tingkat menteri luar negeri regional.
Namun, tantangan besar masih menghadang. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf sebelumnya menolak pembicaraan di Pakistan dan menyebutnya sebagai “kedok” di balik kedatangan ribuan pasukan Marinir AS ke kawasan Timur Tengah. Iran juga telah mengancam akan menyerang target-target terkait pejabat AS dan Israel, serta menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak dunia.
Di sisi lain, Israel mengumumkan rencana perluasan operasi militer di Lebanon selatan untuk melemahkan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa militer Israel akan memperluas “zona keamanan” di wilayah tersebut. Akibatnya, lebih dari satu juta warga Lebanon terpaksa mengungsi, dan ketegangan di perbatasan terus meningkat.
Baca juga : Mario Aji Terjatuh di Lap Krusial, Harapan Poin di Moto2 Austin Pupus
Perang yang pecah sejak akhir Februari 2026 ini telah menimbulkan korban jiwa signifikan. Lebih dari 3.000 orang dilaporkan tewas, termasuk lebih dari 1.900 di Iran, 1.200 di Lebanon, serta puluhan di Israel, Irak, dan negara-negara Teluk. Serangan udara Israel di Tehran dilaporkan menargetkan fasilitas penelitian dan produksi senjata, sementara Iran merespons dengan serangan balik terhadap aset militer AS dan Israel.
Selain korban manusia, konflik ini juga mengancam rantai pasok global. Pengendalian Iran terhadap Selat Hormuz telah menyebabkan gejolak harga minyak dan gas, sementara keterlibatan kelompok Houthi di Yaman berpotensi mengganggu pelayaran di Selat Bab el-Mandeb menuju Laut Merah. Ancaman terhadap infrastruktur sipil, termasuk universitas dan fasilitas listrik, semakin memperburuk situasi kemanusiaan.
Dari perspektif diplomatik, Mesir menekankan pentingnya membuka “dialog langsung” antara AS dan Iran, yang selama ini lebih banyak bergantung pada mediator. Iran menolak proposal 15 poin yang diajukan AS dan justru menyusun proposal balasan lima poin yang mencakup penghentian serangan, jaminan keamanan, ganti rugi, serta pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
Pakistan sendiri telah melihat sinyal positif ketika Iran melonggarkan pembatasan bagi kapal-kapal komersial berbendera Pakistan di Selat Hormuz. Mantan Duta Besar Pakistan untuk Iran, Asif Durrani, menyebut langkah itu sebagai sinyal bahwa Tehran tetap terbuka untuk kerjasama ekonomi selama tidak ada pemaksaan dari pihak luar.
Penasihat senior Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, menambahkan bahwa setiap kesepakatan damai harus menyertakan jaminan kuat agar serangan Iran terhadap negara tetangga tidak terulang, serta kompensasi atas kerusakan infrastruktur sipil.
Analis geopolitik melihat peran Pakistan sebagai mediator ini unik karena posisinya yang tidak sepenuhnya berpihak pada blok mana pun, berbeda dengan mediator lain yang lebih condong ke satu pihak. Keberhasilan atau kegagalan upaya ini akan sangat menentukan apakah konflik dapat diredam sebelum meluas menjadi perang regional yang lebih besar, atau justru semakin memperdalam jurang ketidakpercayaan antara Iran dan Barat.
Saat ini, kedua belah pihak masih saling mengancam, termasuk soal program nuklir Iran dan target sipil. Namun, pintu diplomasi melalui Pakistan setidaknya memberikan harapan kecil di tengah badai yang masih berlangsung.
Pewarta : Setiawan Wibisono

