RI News. Dubai, United Arab Emirates — Di tengah eskalasi militer yang semakin memanas di Timur Tengah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim sedang terjadi negosiasi langsung dengan Iran untuk mengakhiri konflik. Namun, Tehran dengan tegas membantah adanya pembicaraan apa pun, sementara serangan udara dan rudal terus berlangsung di berbagai front.
Pada Selasa kemarin, serangan udara Israel dan AS kembali menghantam target di Iran, termasuk situs-situs produksi strategis. Di sisi lain, Iran meluncurkan gelombang rudal dan drone yang menargetkan Israel serta instalasi di beberapa negara Teluk. Meski demikian, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang dalam proses pembicaraan intensif yang melibatkan utusan khusus Steve Witkoff, Jared Kushner, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Wakil Presiden JD Vance.
“Pihak lain ingin mencapai kesepakatan,” ujar Trump di Gedung Putih, seraya menekankan bahwa Washington memberikan waktu tambahan bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Penundaan ultimatum ini, yang semula hanya 48 jam, kini diperpanjang untuk memberi ruang bagi diplomasi.

Pakistan muncul sebagai aktor kunci dalam upaya mediasi. Perdana Menteri Shehbaz Sharif secara terbuka menyatakan kesiapan negaranya menjadi tuan rumah perundingan yang “bermakna dan konklusif”. Beberapa pejabat dari Pakistan, Mesir, dan negara Teluk mengindikasikan bahwa pertemuan tatap muka di Islamabad mungkin digelar dalam waktu dekat, meski mediator masih berupaya meyakinkan pihak Iran.
Analisis dari kalangan diplomatik menunjukkan bahwa setiap upaya perundingan menghadapi hambatan struktural yang sangat besar. Washington menuntut pembatasan signifikan terhadap program rudal balistik dan nuklir Iran, sementara Tehran menolak segala bentuk konsesi yang dianggap merusak kedaulatan. Selain itu, Israel telah berulang kali menyatakan komitmen untuk terus menargetkan pemimpin-pemimpin Iran, sehingga menyulitkan siapa pun di Tehran yang berwenang untuk duduk di meja perundingan.
Di lapangan, situasi tetap tegang. Ribuan pasukan Marinir AS tambahan sedang menuju kawasan Teluk Persia, memicu spekulasi tentang kemungkinan operasi darat terbatas, termasuk penguasaan Pulau Kharg yang menjadi urat nadi ekspor minyak Iran. Iran sendiri mengancam akan memasang ranjau di perairan Teluk jika pasukan asing tampak akan mendarat.
Baca juga : Waduk Sempor Menjadi Destinasi Aman: Polres Kebumen Perkuat Patroli Jelang Libur Lebaran
Dampak ekonomi global sudah terasa nyata. Penutupan efektif Selat Hormuz — yang biasanya menjadi jalur 20 persen pasokan minyak dunia — telah mendorong harga minyak mentah Brent melampaui 100 dolar per barel, naik hampir 40 persen sejak konflik meletus. Serangan terhadap infrastruktur energi di Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi semakin memperburuk ketidakpastian pasar.
Korban jiwa terus bertambah. Di Iran, jumlah korban tewas telah melampaui 1.500 orang. Di Lebanon, serangan Israel terhadap pinggiran selatan Beirut dan wilayah selatan menewaskan puluhan warga sipil, termasuk anak kecil, serta memaksa lebih dari satu juta orang mengungsi. Israel melaporkan 16 korban tewas, sementara pasukan AS mencatat setidaknya 13 anggota militernya gugur.
Lebanon sendiri mengambil sikap tegas dengan menyatakan Duta Besar Iran sebagai persona non grata dan melarang penerbangan Iran mendarat di wilayahnya, karena kekhawatiran pengiriman senjata bagi kelompok Hezbollah.

Dari perspektif strategis, perundingan yang sedang digodok ini tampak sebagai upaya membangun kepercayaan minimal untuk mencapai jeda kemanusiaan, terutama melindungi infrastruktur energi regional. Namun, banyak pengamat memandang langkah Trump menunda serangan terhadap pembangkit listrik Iran sebagai cara membeli waktu bagi pengerahan pasukan sekaligus menjaga opsi militer tetap terbuka.
Konflik ini semakin menunjukkan kompleksitas geopolitik Timur Tengah: di satu sisi ada dorongan diplomasi melalui jalur Pakistan, di sisi lain ada dinamika militer yang sulit dikendalikan. Apakah sinyal perundingan ini akan menjadi pintu keluar yang sesungguhnya, atau hanya jeda sementara di tengah eskalasi yang lebih luas, masih menjadi pertanyaan besar bagi stabilitas kawasan dan perekonomian global.
Berita ini disusun berdasarkan perkembangan terkini dengan penekanan pada analisis konteks politik dan ekonomi, tanpa sensasionalisme berlebih. Perkembangan selanjutnya akan terus dipantau.
Pewarta : Setiawan Wibisono

