RI News. Dubai, United Arab Emirates – Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan pasar global, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan Senin (24 Maret 2026) bahwa Washington sedang melakukan pembicaraan langsung dengan pihak Iran. Trump bahkan mengklaim Republik Islam itu “sangat ingin” mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang kini memasuki minggu keempat.
Langkah ini langsung membawa angin segar. Harga minyak dunia merosot tajam dan bursa saham bergairah kembali setelah akhir pekan lalu kedua negara saling mengancam serangan yang berpotensi menghentikan pasokan listrik dan air minum bagi jutaan warga di kawasan Teluk.
Trump menyatakan telah memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Awalnya hanya 48 jam, kini ditambah lima hari penuh “tergantung hasil pembicaraan yang sedang berlangsung”. Ia menegaskan, utusan khusus AS Steve Witkoff bersama Jared Kushner telah bertemu dengan seorang pejabat senior Iran pada Minggu malam. Namun Trump menegaskan pihaknya belum berbicara langsung dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei.

Tehran cepat membantah. “Tidak ada negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat,” tegas Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. Menurutnya, kabar tersebut hanya upaya memengaruhi pasar keuangan dan minyak.
Meski demikian, Trump optimistis. “Mereka ingin damai. Mereka sudah sepakat tidak akan memiliki senjata nuklir,” ujarnya saat berbicara di Tennessee. Ia percaya ada “peluang sangat besar” kesepakatan bisa dicapai dalam pekan ini, dan mengaitkan optimismenya dengan ancaman kerasnya terhadap pembangkit listrik Iran.
Di balik panggung, mediasi regional mulai bergerak. Turki dan Mesir mengaku telah menyampaikan pesan-pesan jelas kepada kedua pihak yang bertikai. Presiden Mesir Abdel-Fattah el-Sissi menyebut Kairo telah mengirim “pesan tegas” agar konflik segera mereda. Sementara Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan aktif menghubungi rekan-rekannya dari Qatar, Arab Saudi, Pakistan, hingga Uni Eropa dan AS.
Seorang diplomat Teluk yang enggan disebut namanya mengatakan, “Untuk sementara, kita berhasil menghindari bencana energi besar-besaran.” Ia menilai peran Mesir dan Turki sangat krusial dalam mencegah serangan terhadap infrastruktur vital.
Perang yang dipicu serangan gabungan AS-Israel ini telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan mengguncang stabilitas ekonomi dunia. Selat Hormuz, yang biasanya menjadi jalur seperlima pasokan minyak global, kini terancam. Israel terus melanjutkan serangan udara ke Tehran dan Lebanon, sementara Hizbullah membalas dengan ratusan roket.

Di tengah eskalasi militer, kedua kubu tetap membuka pintu diplomasi. Trump menegaskan tidak berencana mengirim pasukan darat ke Iran, meski Israel menyatakan siap terlibat lebih jauh. Sementara Iran memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap fasilitas energinya akan dibalas setimpal, termasuk terhadap infrastruktur penting di kawasan.
Dengan perpanjangan waktu lima hari ini, mata dunia kini tertuju pada apakah jalur mediasi rahasia yang melibatkan Turki, Mesir, dan Pakistan dapat mengubah ancaman perang menjadi kesepakatan damai sebelum terlambat. Satu hal yang pasti: pasar keuangan global sudah memberikan suaranya lebih dulu — mereka percaya harapan damai masih terbuka.
Pewarta : Setiawan Wibisono

