RI News. London – Empat ambulans milik organisasi sukarela Hatzola Northwest, yang menyediakan layanan medis darurat bagi komunitas Yahudi di London Utara, dibakar habis dalam serangan yang terjadi pada Senin dini hari. Polisi Metropolitan London sedang menyelidiki insiden ini sebagai kejahatan kebencian antisemit, dengan melibatkan tim anti-teror meskipun belum diklasifikasikan sebagai aksi terorisme.
Serangan yang berlangsung sekitar pukul 01.45 waktu setempat di kawasan Golders Green—daerah dengan populasi Yahudi terbesar di London—menyebabkan ledakan keras dari tabung oksigen di dalam kendaraan. Api yang membara memecahkan jendela apartemen dan rumah-rumah di sekitar, memaksa puluhan warga dievakuasi sementara sebagai langkah pencegahan. Tidak ada korban jiwa atau luka dalam kejadian tersebut, tetapi dampak psikologisnya dirasakan mendalam oleh penduduk setempat.
Rekaman kamera pengawas menunjukkan tiga orang berpakaian hitam dengan penutup kepala mendekati salah satu ambulans sambil membawa tabung sebelum api menyala. Polisi kini memburu ketiga pelaku tersebut, meski belum ada penangkapan hingga saat ini.

Sebuah kelompok yang menyebut diri Harakat Ashab al-Yamin al-Islamia—yang diterjemahkan sebagai Gerakan Islam Sahabat Kanan—mengklaim bertanggung jawab atas serangan melalui unggahan daring yang menyertakan peta lokasi dan rekaman kebakaran. Kelompok ini sebelumnya pernah mengklaim serangan terhadap sinagoga di Belgia dan Belanda, serta diduga memiliki kaitan dengan jaringan pro-Iran menurut pemerintah Israel. Aparat keamanan Inggris sedang memverifikasi keaslian klaim tersebut sebagai prioritas utama penyelidikan.
Perdana Menteri Keir Starmer langsung mengutuk keras insiden ini sebagai “serangan antisemit yang mengerikan”. Dalam pertemuan dengan pemimpin komunitas Yahudi di Downing Street, Starmer menegaskan bahwa “antisemitisme tidak memiliki tempat di masyarakat kita” dan menyerukan seluruh lapisan masyarakat untuk bersatu menghadapi kebencian semacam ini.
Menteri Keamanan Dan Jarvis menyatakan bahwa memastikan kebenaran klaim tanggung jawab menjadi fokus tim investigasi. Sementara itu, Ketua Rabbi Ephraim Mirvis menyebut serangan tersebut sebagai “serangan yang menjijikkan” dan mengajak komunitas Yahudi global untuk tetap teguh melawan intimidasi. Uskup Agung Canterbury Sarah Mullally juga mengecam keras tindakan kekerasan dan kebencian yang “tidak pantas berada di tengah masyarakat kita”.
Baca juga : Tragedi Koordinasi di Landasan: Tabrakan Pesawat Air Canada di LaGuardia Ungkap Celah Keselamatan Bandara
Serangan ini semakin memperburuk rasa tidak aman yang telah lama dirasakan komunitas Yahudi Inggris. Organisasi pemantau seperti Community Security Trust mencatat lonjakan signifikan insiden antisemit sejak Oktober 2023. Sepanjang tahun 2025, tercatat 3.700 kasus antisemitisme di seluruh Inggris—naik dari 3.556 kasus pada 2024 dan menjadi angka tahunan tertinggi kedua sepanjang masa. Tren ini mencerminkan ketegangan yang berkepanjangan akibat konflik di Timur Tengah, yang kerap memicu demonstrasi pro-Palestina yang kadang berubah menjadi ujaran atau tindakan anti-Yahudi.
Warga setempat seperti Mark Reisner menggambarkan pengalaman mengerikan saat mendengar ledakan bertubi-tubi. “Suara ledakannya sangat keras, terasa hingga ke perut. Kami semua masih terguncang dan bingung,” ujarnya.
Organisasi patroli keamanan komunitas Shomrim menyebut serangan ini sebagai “insiden yang disengaja dan sangat mengkhawatirkan”, karena menargetkan layanan darurat vital yang melayani masyarakat sipil. Politisi lokal dari Partai Konservatif, Peter Zinkin, menyuarakan kemarahan komunitas: “Membakar ambulans di tengah malam adalah perbuatan memalukan. Ini terjadi karena kebencian yang telah divalidasi secara luas oleh sebagian media dan sikap pemerintah yang dianggap kurang tegas.”

Para ahli keamanan memandang serangan ini bukan sekadar vandalisme biasa, melainkan bagian dari pola kekerasan antisemit yang semakin berani di Eropa. Meski motif dan dalang di baliknya masih dalam penyelidikan mendalam, insiden ini kembali menyoroti kerentanan kelompok minoritas agama di tengah polarisasi geopolitik global.
Penyelidikan masih berlangsung intensif, dengan harapan pelaku segera diadili dan komunitas yang terdampak mendapat perlindungan yang memadai. Kejadian ini menjadi pengingat mendesak bagi seluruh masyarakat Inggris untuk menolak segala bentuk kebencian yang mengancam kohesi sosial.
Pewarta : Setiawan Wibisono

