RI News. New York – Sebuah pesawat regional Air Canada yang membawa 72 penumpang dan empat awak bertabrakan dengan truk pemadam kebakaran tepat saat mendarat di Bandara LaGuardia, New York, larut malam Minggu. Kecelakaan itu menewaskan pilot dan kopilot secara tragis, sementara puluhan orang lainnya mengalami luka-luka. Kejadian ini menjadi sorotan karena terjadi di salah satu bandara tersibuk Amerika Serikat dan menunjukkan rapuhnya koordinasi lalu lintas udara dengan lalu lintas darat.
Tabrakan terjadi sekitar tengah malam. Truk pemadam kebakaran sedang melintasi landasan pacu setelah mendapat izin untuk memeriksa pesawat lain yang membatalkan lepas landas. Rekaman komunikasi bandara menangkap suara pengatur lalu lintas udara yang berteriak panik berulang kali memerintahkan truk tersebut berhenti. Namun perintah itu datang terlambat. Dampaknya sangat keras: bagian kokpit pesawat terputus, dan seorang pramugari yang masih terikat di kursinya terlempar jauh dari lokasi jatuh. Ia selamat meski mengalami patah tulang serius di kaki dan harus menjalani operasi.
Sekitar 40 penumpang serta awak pesawat, ditambah dua petugas pemadam kebakaran, dilarikan ke rumah sakit. Sebagian besar korban hanya mengalami luka ringan hingga sedang dan sudah diperbolehkan pulang keesokan harinya. Dua petugas pemadam juga tidak dalam kondisi mengancam nyawa.

Kecelakaan ini langsung memicu pertanyaan besar tentang sistem keselamatan di bandara. Mary Schiavo, mantan Inspektur Jenderal Departemen Perhubungan Amerika Serikat, menegaskan bahwa masalah koordinasi antara pesawat dan kendaraan darat bukan hal baru. “Kejadian seperti ini sudah berulang selama bertahun-tahun,” ujarnya. “Ironisnya, beberapa kecelakaan pesawat paling mematikan dalam sejarah justru terjadi di darat, di dalam lingkungan bandara.”
Menteri Perhubungan Sean Duffy mengakui adanya kekurangan pengatur lalu lintas di LaGuardia. Saat ini bandara hanya memiliki 33 pengatur lalu lintas bersertifikat, padahal idealnya 37 orang. Duffy menjamin lebih dari satu pengawas sedang bertugas saat kejadian, namun ia menolak memberikan rincian penyebab dan menyerahkan sepenuhnya kepada Badan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) yang memimpin penyelidikan. Tim investigasi dari Kanada juga turun ke lokasi.
Salah satu pengatur lalu lintas sempat terdengar menyalahkan diri sendiri dalam rekaman sekitar 20 menit setelah tabrakan. “Kami sedang menangani keadaan darurat sebelumnya. Saya yang salah,” katanya. Hal ini memperkuat dugaan bahwa tekanan kerja dan kekurangan staf menjadi faktor pemicu.
Kondisi bandara saat itu semakin rumit karena pemadaman pemerintah sebagian yang sedang berlangsung. LaGuardia, sebagai hub ketiga tersibuk di wilayah New York, terpaksa ditutup sementara. Penerbangan baru bisa dilanjutkan Senin sore dengan satu landasan saja, menyebabkan keterlambatan panjang. Sistem pengawasan permukaan canggih yang dimiliki bandara sebenarnya telah memberikan alarm peringatan, namun alarm itu tidak cukup mencegah tabrakan karena sistem tidak mengetahui apakah izin penyeberangan landasan sudah diberikan.
Dari sudut penumpang, cerita-cerita keselamatan menjadi bukti keajaiban di tengah bencana. Seorang penumpang menggambarkan pesawat sempat mengalami turbulensi sebelum mendarat, lalu mendadak mengerem keras disertai ledakan keras. “Semua orang terpental dari kursi. Ada yang berdarah, ada yang kepalanya terbentur,” ujarnya. Penumpang lain memuji refleks cepat pilot yang mengerem maksimal tepat saat roda menyentuh landasan, sehingga banyak nyawa tertolong.

Pramugari yang terlempar itu disebut putrinya mengalami “mukjizat total”. “Dia pasti punya malaikat penjaga,” kata sang putri. Sementara itu, identitas pilot yang tewas diumumkan sebagai Antoine Forest, seorang pilot muda Kanada yang sejak kecil bercita-cita mengudara.
Ini merupakan kecelakaan fatal pertama di LaGuardia dalam 34 tahun terakhir. Data Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan ada 1.636 pelanggaran landasan pacu sepanjang tahun lalu di seluruh Amerika Serikat. Angka ini mengingatkan kita bahwa meski teknologi sudah canggih, faktor manusia dan koordinasi tetap menjadi titik lemah yang paling berbahaya.
Penyelidikan masih berlangsung. Hasilnya nanti diharapkan tidak hanya menjelaskan apa yang salah malam itu, tetapi juga mendorong perbaikan sistem keselamatan bandara secara nasional agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

