RI News. Yogyakarta, 7 Maret 2026 – Tepat hari ini, Sabtu, genap 37 tahun sejak Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dinobatkan memimpin Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Momen bersejarah pada 7 Maret 1989 itu tidak hanya menandai pergantian kepemimpinan keraton, melainkan juga awal dari babak panjang pengabdian yang menyatukan tradisi luhur dengan dinamika kehidupan masyarakat modern di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Lahir dengan nama Bendara Raden Mas Herjuno Darpito pada 2 April 1946, Sri Sultan Hamengku Buwono X menghabiskan sebagian besar masa kecil dan remajanya di tanah Yogyakarta. Sebelum naik takhta, beliau mendapat amanah dari ayahandanya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sebagai Pangeran Lurah atau pangeran tertua di antara para pangeran keraton, dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Mangkubumi. Penobatan resmi berlangsung pada Selasa Wage, 29 Rejeb 1921 dalam kalender Jawa, atau 7 Maret 1989 Masehi, diiringi upacara adat yang khidmat di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Di sampingnya, GKR Hemas turut dinobatkan sebagai permaisuri, menegaskan komitmen monogami yang menjadi ciri khas kepemimpinan pasangan ini—sebuah pendekatan yang membedakan dari tradisi sebelumnya dan memperkuat struktur keluarga inti keraton.

Selama tiga setengah dekade lebih, kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X tidak terbatas pada urusan keraton semata. Beliau juga menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sejak 1998, mengintegrasikan peran budaya dan administratif dalam satu kesatuan. Di bawah bimbingannya, Yogyakarta berhasil menjaga identitas budaya Jawa yang kental sambil menghadapi berbagai tantangan zaman, mulai dari reformasi politik nasional hingga pengelolaan pembangunan daerah yang berbasis keistimewaan. GKR Hemas, sebagai mitra setara, turut berperan aktif dalam berbagai bidang, termasuk advokasi pemberdayaan perempuan, pelestarian nilai-nilai kebudayaan, serta upaya membangun harmoni sosial di tengah masyarakat yang semakin majemuk.
Pasangan ini telah menjadi simbol keteguhan dalam menjaga harmoni antara warisan leluhur dan kebutuhan kontemporer. Mereka tidak hanya merawat tradisi upacara adat dan kesenian klasik, tetapi juga mendorong pendidikan, ekonomi kreatif berbasis budaya, serta ketahanan masyarakat di tengah perubahan global. Kepemimpinan mereka sering disebut sebagai jembatan yang membuat Yogyakarta tetap relevan sebagai pusat kebudayaan nasional tanpa kehilangan akar historisnya.
Di hari tingalan jumenengan dalem yang ke-37 ini, masyarakat Yogyakarta dan berbagai kalangan menyampaikan doa serta penghargaan mendalam. Semoga Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas senantiasa dikaruniai kesehatan prima, kesabaran luas, serta keberkahan dalam melanjutkan pengabdian. Sugeng tingalan jumenengan dalem.
Pewarta: Lee Anno

