RI News. New York — Pasar saham Amerika Serikat mengalami tekanan berat pada penutupan perdagangan akhir Februari 2026, dengan indeks utama mencatat penurunan signifikan akibat kombinasi kekhawatiran atas dampak disruptif kecerdasan buatan (AI), data inflasi grosir yang lebih tinggi dari perkiraan, serta ketegangan geopolitik yang memengaruhi harga minyak dunia.
Indeks S&P 500 ditutup melemah 0,43% ke level 6.878,88, sementara Dow Jones Industrial Average anjlok 1,05% atau 521 poin menjadi 48.977,92. Nasdaq Composite, yang didominasi saham teknologi, turun 0,92% ke posisi 22.668,21. Penurunan ini menandai bulan yang volatil, di mana S&P 500 dan Nasdaq mencatat kinerja bulanan terburuk sejak Maret tahun sebelumnya, meskipun Dow masih berhasil mencatat streak kenaikan bulanan terpanjang dalam beberapa tahun.
Faktor utama yang membebani sentimen investor adalah percepatan adopsi AI yang mengancam model bisnis konvensional. Banyak perusahaan perangkat lunak dan jasa profesional dinilai rentan tergantikan oleh teknologi AI yang lebih efisien. Ketakutan ini memicu aksi jual cepat di berbagai sektor, mulai dari logistik hingga layanan hukum.

Salah satu peristiwa yang paling mencuri perhatian adalah pengumuman Block—perusahaan di balik platform pembayaran Square dan Cash App—yang memangkas hampir setengah tenaga kerjanya, atau lebih dari 4.000 karyawan dari total lebih dari 10.000 orang. CEO Block, Jack Dorsey, menegaskan bahwa alat kecerdasan telah mengubah paradigma membangun dan mengelola perusahaan. “Tim yang jauh lebih kecil, dengan memanfaatkan alat yang kami kembangkan, mampu menghasilkan lebih banyak dan lebih baik,” ujar Dorsey dalam surat kepada pemegang saham. Ia bahkan memprediksi bahwa dalam setahun ke depan, sebagian besar perusahaan akan mengikuti langkah serupa dengan restrukturisasi mendalam.
Menariknya, pengumuman pemangkasan ini justru membuat saham Block melonjak hingga 16,8%, menunjukkan bahwa pasar menghargai efisiensi yang dijanjikan AI meskipun berujung pada hilangnya lapangan kerja massal. Dampak serupa terlihat pada perusahaan ekuitas swasta yang banyak berinvestasi di sektor perangkat lunak, seperti Apollo Global Management yang merosot 8,6% dan Blue Owl Capital turun 6%, karena kekhawatiran atas kemampuan debitur mereka bertahan dari gelombang AI.
Bahkan raksasa AI seperti Nvidia tidak luput dari tekanan. Sahamnya turun 4,2% meskipun melaporkan laba kuartalan melebihi ekspektasi analis. Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan pengeluaran besar-besaran untuk infrastruktur AI oleh perusahaan teknologi raksasa, serta apakah investasi tersebut akan benar-benar menghasilkan produktivitas dan laba yang sepadan di masa depan.
Baca juga : Movie Review Scream 7: Sidney Prescott Kembali, Tapi Apakah Hantu Masa Lalu Masih Menakutkan?
Di sisi lain, ada pemenang di tengah gejolak. Netflix melonjak 13,8% setelah mundur dari rencana akuisisi aset streaming Warner Bros. Discovery, membuka peluang bagi Paramount (di bawah Skydance) untuk mengambil alih, dengan saham Paramount melonjak lebih dari 20%.
Selain isu AI, laporan inflasi grosir (Producer Price Index) Januari 2026 yang naik 2,9%—jauh di atas prediksi ekonom 1,6%—menambah kekhawatiran. Data ini berpotensi memaksa Federal Reserve menunda pemangkasan suku bunga lebih lama, yang pada gilirannya bisa membatasi dorongan bagi pertumbuhan ekonomi dan harga aset.
Pasar obligasi merespons dengan penurunan imbal hasil Treasury 10 tahun ke 3,96%, mencerminkan pelarian investor ke aset aman di tengah ketidakpastian tinggi.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS acuan naik 2,8% menjadi US$67,02 per barel, sementara Brent naik 2,4% ke US$72,48. Kenaikan ini didorong oleh ketegangan berkelanjutan antara AS dan Iran terkait program nuklir, dengan militer AS telah mengerahkan armada besar di Timur Tengah. Ancaman gangguan pasokan minyak global membuat pasar waspada terhadap potensi lonjakan harga lebih lanjut.
Secara keseluruhan, pekan ini menegaskan bahwa revolusi AI tidak hanya menjanjikan efisiensi, tetapi juga membawa risiko disrupsi besar bagi tenaga kerja dan stabilitas pasar. Investor kini menanti data ekonomi mendatang, termasuk laporan ketenagakerjaan AS, untuk melihat apakah Maret 2026 bisa menjadi bulan pembalikan arah seperti yang diprediksi beberapa analis, atau justru memperdalam ketidakpastian yang sedang berlangsung.
Pewarta : Vie

