RI News. Abuja, Nigeria — Krisis keamanan yang semakin kompleks di Nigeria, kelompok militan Lakurawa kembali menjadi sorotan setelah serangkaian serangan mematikan di wilayah barat laut negara itu. Setidaknya 34 orang tewas dalam serangan terkoordinasi terhadap desa-desa di negara bagian Kebbi pada Selasa lalu, menurut laporan keamanan yang dilihat oleh wartawan internasional. Insiden ini tidak hanya menambah daftar panjang korban jiwa, tetapi juga menandai perluasan pengaruh kelompok yang dikenal dengan campuran antara ideologi Islam militan dan praktik kriminal seperti pemerasan dan penculikan.
Lakurawa, yang nama asalnya berasal dari istilah Hausa yang berarti “para rekrutan” dan dipengaruhi oleh bahasa Prancis, pertama kali muncul pada 2017 sebagai kelompok vigilante yang melindungi komunitas dari bandit di negara bagian Sokoto. Namun, sejak akhir 2024, kelompok ini bertransformasi menjadi kekuatan destruktif yang menggabungkan pemerintahan Islam ketat dengan aktivitas bandit, termasuk pungutan paksa yang mereka sebut sebagai zakat atau kewajiban agama. Pemerintah Nigeria secara resmi menyatakan Lakurawa sebagai organisasi teroris pada 2025, setelah serangkaian serangan yang menewaskan ratusan orang, termasuk warga sipil, bandit saingan, dan pasukan keamanan.

Asal-usul Lakurawa masih menjadi perdebatan di kalangan analis keamanan. Beberapa ahli percaya kelompok ini lahir dari gabungan antara pejuang Fulani dari Mali yang terkait dengan Front Pembebasan Macina—yang kemudian bergabung dengan kelompok militan lain—dan milisi pertahanan diri dari Niger. Yang jelas, Lakurawa telah menjalin hubungan dengan cabang Provinsi Sahel dari kelompok militan global, yang memungkinkan mereka beroperasi di wilayah perbatasan Niger-Nigeria. Hutan-hutan lebat di perbatasan ini menjadi basis ideal untuk perdagangan senjata ilegal, penyelundupan, dan pergerakan militan, mempersulit upaya pemberantasan oleh pasukan keamanan setempat.
Serangan terbaru di Kebbi bukanlah yang pertama. Pada awal Februari 2026, militan yang diduga terkait Lakurawa menyerbu desa-desa di negara bagian Kwara, menewaskan lebih dari 160 orang dalam salah satu pembantaian terburuk dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun beberapa pejabat menyalahkan kelompok militan lain seperti Boko Haram, analis independen menunjukkan pola Lakurawa dalam penegakan hukum Islam yang ketat, di mana warga desa yang menolak versi syariah mereka menjadi target. Serangan ini sering melibatkan pembakaran bangunan, penculikan, dan pembunuhan massal, meninggalkan komunitas dalam ketakutan permanen. Di Sokoto dan Kebbi, Lakurawa telah memperluas operasinya sejak 2024, dengan serangan mendadak terhadap pasukan keamanan dan pemaksaan aturan agama yang menghukum pelanggaran seperti minum alkohol atau pelanggaran norma sosial.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ikatan Lakurawa dengan jaringan militan yang lebih luas. Kelompok ini berfungsi sebagai penghubung strategis antara cabang militan di Sahel dan Afrika Barat, memfasilitasi rekrutmen, logistik, dan dukungan operasional. Ada bukti bahwa anggota Lakurawa telah mengunjungi kamp-kamp militan di negara bagian Borno sejak 2023, memperkuat kolaborasi dengan kelompok seperti Boko Haram dan splinter-nya. Hibrida antara terorisme dan kriminalitas ini—di mana pemerasan dan penculikan menjadi sumber pendanaan—membuat Lakurawa sulit dibedakan dari bandit biasa, sehingga mempersulit respons keamanan Nigeria yang sudah terpecah belah antara konflik di timur laut dan barat laut.
Keterlibatan internasional semakin menonjol dalam menghadapi ancaman ini. Amerika Serikat telah melakukan serangan udara terhadap kamp Lakurawa di Sokoto pada Hari Natal 2025, dengan persetujuan Presiden Nigeria Bola Tinubu. Serangan ini diduga terkait dengan penculikan seorang misionaris Amerika di Niger pada Oktober 2025, meskipun skala Lakurawa masih lebih kecil dibandingkan kelompok militan lain di kawasan. Selain itu, AS telah mengirim penasihat militer untuk melatih pasukan Nigeria, menandai pemulihan kerjasama keamanan setelah ketegangan diplomatik sebelumnya. Namun, analis memperingatkan bahwa intervensi semacam ini bisa memperburuk situasi jika tidak disertai reformasi tata kelola lokal, seperti mengatasi kekosongan keamanan di perbatasan dan kemiskinan yang menjadi akar rekrutmen militan.

Implikasi jangka panjang bagi Nigeria sangat serius. Dengan operasi yang meluas ke Kebbi dan potensi ke Benin, Lakurawa berisiko menutup celah teritorial antara zona militan di Sahel dan Afrika Barat, memperluas pengaruh kelompok global. Krisis ini tidak hanya mengancam stabilitas regional, tetapi juga memperburuk penderitaan warga sipil yang terjebak antara militan, bandit, dan respons militer yang kadang berlebihan. Tanpa pendekatan holistik yang menggabungkan keamanan, pembangunan ekonomi, dan dialog komunitas, bayang-bayang Lakurawa akan terus menghantui Nigeria, mengubah wilayah barat laut menjadi medan perang baru yang tak terduga.
Pewarta : Anjar Bramantyo

