RI News Portal. Kyiv, Ukraine — Bohodukhiv, sebuah kota kecil di wilayah Kharkiv yang berjarak hanya puluhan kilometer dari perbatasan Rusia, kembali menjadi saksi bisu kekejaman perang pada malam 10–11 Februari 2026. Sebuah drone tempur menghantam sebuah rumah bata sederhana, merobohkan seluruh bangunan, memicu kobaran api, dan menjebak satu keluarga di bawah reruntuhan. Ayah berusia 34 tahun bernama Hryhorii (atau Grigory dalam beberapa catatan) tewas bersama ketiga anak kecilnya: sepasang anak kembar laki-laki berusia dua tahun bernama Ivan dan Vladyslav, serta adik perempuan mereka Myroslava yang baru berusia satu tahun. Ibu mereka, Olha, yang sedang mengandung anak keempat pada usia kehamilan 35 minggu, berhasil diselamatkan dengan luka bakar ringan dan cedera lain, meskipun kondisi awal dilaporkan lebih serius.
Keluarga ini baru saja tiba di Bohodukhiv setelah mengungsi dari daerah yang lebih rentan terhadap serangan artileri. Malam pertama di tempat yang mereka harapkan lebih aman justru menjadi malam terakhir bagi sebagian besar anggota keluarga. Tetangga yang mendengar ledakan bergegas menolong dan menarik Olha dari puing-puing yang terbakar, sementara suara tangis salah satu anak masih terdengar sebelum akhirnya mereda. Tragedi ini bukan kasus terisolasi; ia mencerminkan pola serangan yang semakin sering menyasar pemukiman sipil jauh dari garis depan, menggunakan drone jarak pendek hingga menengah seperti Geran-2 (adaptasi Rusia dari desain Shahed Iran).

Data dari pemantau hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa tahun 2025 menjadi tahun paling mematikan bagi warga sipil Ukraina sejak invasi skala penuh dimulai pada 2022. Sebanyak 2.514 warga sipil tewas dan 12.142 lainnya terluka—kenaikan 31 persen dibandingkan 2024. Peningkatan ini didorong oleh intensifikasi penggunaan drone dan senjata jarak jauh yang menjangkau wilayah belakang garis depan, membuat banyak komunitas dekat perbatasan hampir tidak layak huni. Di Kharkiv dan sekitarnya, serangan semacam ini telah menjadi rutinitas malam hari, merusak kepercayaan warga terhadap upaya diplomatik yang sedang berlangsung.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyoroti bahwa insiden seperti di Bohodukhiv terus menggerus keyakinan bahwa jalur diplomasi dapat segera menghentikan penderitaan. “Setiap serangan semacam ini membuktikan bahwa hanya tekanan nyata dan jaminan keamanan yang kuat yang mampu menghentikan pembunuhan massal terhadap warga sipil,” ujarnya melalui pernyataan resmi. Di sisi lain, pihak berwenang setempat di Bohodukhiv mengumumkan tiga hari berkabung resmi: bendera dikibarkan setengah tiang, acara hiburan dibatalkan, dan warga diminta merenung atas hilangnya “masa depan” dalam satu serangan.
Secara lebih luas, malam tersebut juga mencatat 129 drone jarak jauh diluncurkan Rusia ke berbagai wilayah Ukraina, menyebabkan korban jiwa tambahan di Sumy (dua tewas, sembilan luka termasuk anak-anak), Zaporizhzhia (lima luka di kawasan pemukiman), dan Kherson (enam luka). Di sisi timbal balik, serangan drone Ukraina dilaporkan memicu kebakaran di fasilitas industri Volgograd, Rusia, disertai penangguhan sementara operasional di delapan bandara Rusia.
Di tengah upaya perdamaian yang dipimpin pihak luar—termasuk perubahan kebijakan bantuan militer AS dan peningkatan dukungan Eropa—tragedi keluarga kecil di Bohodukhiv mengingatkan bahwa korban perang bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah nama-nama: Ivan, Vladyslav, Myroslava, dan Hryhorii—generasi yang seharusnya menjadi harapan, tapi malah menjadi korban dari konflik yang tampaknya tak kunjung menemukan titik akhir.
Pewarta : Setiawan Wibisono

