RI News Portal. Trenggalek, Jawa Timur – Langkah berani Pemerintah Kabupaten Trenggalek dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi persaingan dunia kerja internasional mulai menuai hasil nyata. Sembilan pemuda terbaik daerah ini resmi diberangkatkan untuk menempuh pendidikan Diploma Dua (D2) secara penuh beasiswa di University of Gyeongnam Namhae, Korea Selatan. Program ini menjadi wujud konkret dari nota kesepahaman pendidikan yang telah terjalin antara pemerintah daerah setempat dan institusi perguruan tinggi negeri di Negeri Ginseng tersebut.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menyatakan, pelepasan tersebut dilakukan di Pendopo Manggala Praja Nugraha, menandai babak baru bagi putra-putri daerah untuk mengakses pendidikan berkualitas tinggi tanpa beban biaya. “Ini bukan sekadar kesempatan belajar, melainkan investasi jangka panjang bagi pembangunan Trenggalek ke depan,” ujarnya saat acara pelepasan pada Selasa lalu.
Para peserta, yang telah melalui seleksi ketat termasuk ujian akademik dan pelatihan bahasa Korea selama empat bulan, dijadwalkan tiba di Korea Selatan pada awal Maret mendatang. Bidang studi yang mereka ambil mencakup teknik permesinan serta kecerdasan buatan (artificial intelligence), dua disiplin ilmu yang dirancang selaras dengan tuntutan pasar kerja global. Menariknya, dari 16 peserta asal Indonesia yang terpilih dalam skema serupa, sembilan di antaranya merupakan wakil dari Trenggalek—persentase yang mencerminkan daya saing tinggi generasi muda kabupaten ini.

Salah satu yang paling menonjol adalah Arya Bayu Adi Permana, lulusan SMKN 1 Trenggalek asal Desa Bendoagung, Kecamatan Kampak. Ia berhasil menyandang predikat nilai terbaik sepanjang proses seleksi, sekaligus mendapat apresiasi langsung dari pihak universitas Korea. “Saya tidak menyangka bisa sampai di titik ini. Semua proses, mulai dari pelatihan bahasa hingga pengurusan dokumen, difasilitasi sepenuhnya tanpa biaya,” ungkap Arya dengan rasa syukur.
Bupati Nur Arifin menekankan, kesamaan karakter geografis antara wilayah Gyeongnam Namhae—yang juga berupa daerah pegunungan dan pesisir—diharapkan memudahkan adaptasi para peserta. “Mereka akan belajar tidak hanya ilmu teknis, tapi juga membawa pulang pengalaman yang bisa diterapkan untuk kemajuan Trenggalek nantinya,” katanya. Ia juga menyampaikan pesan agar para pemuda memanfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh, agar kelak dapat kembali dan berkontribusi bagi tanah kelahirannya.
Baca juga : Modus Kamuflase Valuta Asing: KPK Bongkar Potensi Celah Baru Gratifikasi di Ranah Peradilan
Program ini saat ini masih diselenggarakan secara penuh tanpa pungutan biaya oleh pemerintah daerah. Ke depan, rencana pengembangan skema subsidi dengan mekanisme cicilan pasca-pekerjaan dipertimbangkan untuk memperluas akses bagi lebih banyak pemuda berprestasi.
Kisah ini juga menyentuh sisi emosional keluarga. Sulam, warga Desa Ngerdani, Kecamatan Dongko, mengaku sangat bersyukur anaknya termasuk dalam rombongan. “Tanpa program ini, mustahil kami bisa membiayai pendidikan di luar negeri. Ini harapan besar bagi masa depan anak kami,” tuturnya.
Dengan inisiatif ini, Trenggalek tidak hanya menunjukkan komitmen pada peningkatan sumber daya manusia, tetapi juga membuktikan bahwa daerah pedesaan pun mampu bersaing di level global melalui pendidikan dan kolaborasi internasional yang strategis.
Pewarta : Sugeng R

