RI News Portal. Washington, 5 Februari 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menggelar panggilan telepon berdurasi panjang pada hari Rabu, membahas sejumlah isu krusial yang mencerminkan kompleksitas hubungan dua kekuatan besar dunia saat ini. Percakapan tersebut terjadi di tengah upaya Washington untuk mengisolasi Iran secara lebih luas, sementara Beijing menegaskan sikap tegasnya terkait Taiwan dan menjaga keseimbangan dalam dinamika geopolitik global.
Menurut pernyataan dari pihak Trump, kedua pemimpin membahas situasi di Iran yang masih memanas pasca penindasan keras terhadap gelombang protes nasional beberapa waktu lalu. Trump menyatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk kemungkinan tindakan militer, jika Teheran tidak memberikan konsesi signifikan terkait program nuklirnya. Ia juga menyinggung kemunduran program tersebut akibat serangan udara AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran selama konflik singkat dengan Israel pada Juni tahun lalu.
Pemerintahan Trump secara aktif mendorong negara-negara, termasuk China sebagai mitra dagang utama Iran, untuk mengurangi hubungan ekonomi dengan Teheran. Kebijakan baru berupa pajak impor 25 persen terhadap barang dari negara yang tetap berbisnis dengan Iran menjadi salah satu instrumen tekanan tersebut. Meski demikian, data perdagangan internasional menunjukkan Iran masih mempertahankan volume transaksi bernilai miliaran dolar, terutama dengan China, Uni Emirat Arab, dan Turki.

Dari sisi China, pernyataan resmi menekankan bahwa isu Taiwan merupakan “masalah paling penting” dalam hubungan bilateral dengan Amerika Serikat. Xi menegaskan kembali prinsip “satu China” dan meminta Washington untuk menangani penjualan senjata ke Taiwan dengan sangat hati-hati. Sikap ini muncul setelah pemerintahan Trump mengumumkan paket penjualan senjata besar-besaran ke Taipei senilai lebih dari 10 miliar dolar, mencakup rudal jarak menengah, artileri, dan drone—langkah yang terus memicu kecaman dari Beijing.
Panggilan tersebut juga berlangsung di saat perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara AS dan Rusia, New START, akan berakhir pada hari Kamis. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, tidak ada lagi batasan formal atas arsenal nuklir kedua negara terbesar di dunia. Trump menyatakan keinginannya untuk mempertahankan mekanisme pengendalian senjata, namun dengan syarat China turut dilibatkan dalam kerangka perjanjian baru. Pendekatan ini mencerminkan upaya Washington untuk mengatasi pertumbuhan cepat kemampuan nuklir Beijing dalam konteks keamanan global.
Baca juga : Warga Desa Kembang Sambut Hangat TMMD Ke-127: Harapan Lama Jalan Beton Akhirnya Terwujud
Selain itu, kedua pemimpin menyentuh isu perdagangan bilateral, termasuk potensi peningkatan pembelian kedelai dan energi dari AS oleh China, serta rencana kunjungan Trump ke Beijing pada bulan April mendatang. Trump menggambarkan hubungan pribadinya dengan Xi sebagai “sangat baik” dan menekankan pentingnya menjaga stabilitas tersebut di tengah berbagai ketegangan.
Secara terpisah, Xi juga mengadakan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari yang sama, menunjukkan posisi China yang aktif dalam menjaga komunikasi dengan berbagai kekuatan besar di tengah ketidakpastian geopolitik.
Panggilan telepon ini menandai upaya diplomasi tingkat tinggi untuk mengelola persaingan strategis AS-China, khususnya di isu-isu sensitif seperti Iran, Taiwan, dan proliferasi nuklir. Meski kedua belah pihak menampilkan nada positif, perbedaan mendasar dalam prioritas dan kepentingan nasional tetap menjadi tantangan utama bagi stabilitas hubungan dua negara tersebut ke depan.
Pewarta : Setiawan Wibisono

