RI News Portal. Jakarta – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memasuki babak baru dalam upaya pemberdayaan usaha kecil menengah nasional dengan meluncurkan persiapan sistem satu data terintegrasi berbasis digital bernama Sapa UMKM. Sistem ini dirancang sebagai aplikasi super (super apps) yang menjadi pusat layanan terpadu bagi seluruh kebutuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menegaskan bahwa pengelolaan lebih dari 57 juta unit usaha tidak lagi memungkinkan dilakukan dengan pendekatan konvensional. Dalam pernyataannya usai menghadiri 12th Annual Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta, Kamis (5/2/2026), ia menyatakan bahwa optimalisasi teknologi digital merupakan satu-satunya jalan realistis untuk menjangkau dan memberdayakan jumlah pelaku usaha yang sangat besar tersebut.
“Jika kita masih menggunakan metode manual dan konvensional, mustahil mengelola 50–57 juta UMKM secara efektif. Transformasi digital menjadi keharusan, bukan lagi pilihan,” tegas Maman.

Sapa UMKM dikembangkan untuk menghimpun berbagai layanan esensial dalam satu ekosistem digital yang terintegrasi. Pelaku usaha dapat mengakses beragam fasilitas, meliputi pembiayaan dari perbankan dan lembaga keuangan swasta, proses perizinan dan legalitas usaha, akses pasar domestik maupun internasional, program pelatihan dan pendidikan kewirausahaan, hingga peningkatan produktivitas melalui pendampingan terstruktur. Selain itu, sistem ini juga berfungsi sebagai pusat informasi serta sosialisasi berbagai kebijakan dan program pemerintah terkait UMKM.
Salah satu keunggulan utama Sapa UMKM adalah kemampuannya mencatat riwayat pelatihan dan pendampingan setiap pelaku usaha. Data tersebut memungkinkan pemerintah melakukan pemetaan kebutuhan peningkatan kapasitas secara lebih presisi dan tepat sasaran, sehingga intervensi kebijakan menjadi lebih efektif dan terukur.
Pengembangan teknis sistem tersebut dilaporkan telah mencapai tahap akhir. Kementerian UMKM juga menjalin kerja sama strategis dengan Indonesian Open Network (ION), sebuah lembaga yang telah memiliki rekam jejak sukses membangun sistem serupa di India serta sejumlah negara berkembang lainnya. Pendekatan jaringan terbuka (open network) yang diadopsi dari model ION dinilai mampu mempercepat pemberdayaan UMKM melalui kolaborasi lintas sektor.
Proses integrasi data pelaku usaha ke dalam Sapa UMKM akan dilakukan secara bertahap untuk memastikan akurasi dan kelengkapan informasi. Target akhir adalah seluruh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia dapat terdaftar dan memanfaatkan ekosistem ini.
Sapa UMKM juga akan terhubung dengan infrastruktur digital yang telah ada, khususnya Pasar Digital UMKM (PaDi UMKM). Integrasi ini diharapkan membuka peluang promosi produk yang jauh lebih luas, termasuk akses ke jaringan pembeli dari luar negeri.
“Ketika semua UMKM masuk ke dalam satu sistem, potensi promosi dan ekspansi pasar menjadi sangat signifikan. Produk lokal bisa menjangkau pembeli internasional dengan lebih mudah dan efisien,” tambah Maman.
Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap Sapa UMKM tidak hanya menjadi alat pendataan, melainkan juga katalisator transformasi fundamental bagi ekosistem UMKM nasional menuju era ekonomi digital yang inklusif, kompetitif, dan berkelanjutan.
Pewarta: Yudha Purnama

