RI News Portal. Dhaka, 30 Desember 2025 – Mantan Perdana Menteri Bangladesh, Begum Khaleda Zia, menghembuskan napas terakhir pada usia 80 tahun setelah berjuang melawan berbagai penyakit kronis yang telah lama menyertainya. Pengumuman ini disampaikan oleh Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) pada Selasa pagi, menandai berakhirnya era seorang pemimpin wanita yang menjadi pionir dalam politik negara Asia Selatan tersebut.
Khaleda Zia, yang dikenal sebagai perdana menteri wanita pertama Bangladesh, adalah janda dari mendiang Presiden Ziaur Rahman, pendiri BNP dan figur kunci dalam proklamasi kemerdekaan Bangladesh pada 1971. Perjalanan politiknya dimulai secara tragis pada 1981, ketika suaminya dibunuh dalam upaya kudeta militer. Dari seorang ibu rumah tangga yang relatif menjauh dari sorotan publik, ia bangkit menjadi simbol perlawanan terhadap rezim otoriter.
Masuknya Zia ke arena politik nasional pada 1982 menjadi titik balik. Dengan kepemimpinan yang tegas, ia memobilisasi gerakan oposisi yang akhirnya menggulingkan rezim militer Presiden Hussain Muhammad Ershad setelah sembilan tahun berkuasa. Kemenangan elektoral pada 1991 menjadikannya perdana menteri pertama kali, diikuti masa jabatan kedua pada 2001. Selama periode ini, ia memimpin Bangladesh melalui transisi demokrasi pasca-diktator, meski diwarnai tantangan ekonomi dan polarisasi politik yang intens.

Namun, karier politiknya tidak lepas dari kontroversi. Sebagai oposisi utama selama dominasi pemerintahan saingannya yang berlangsung panjang, Zia menghadapi tuduhan korupsi yang ia anggap sebagai bentuk pembalasan politik. Pada 2018, ia dijatuhi hukuman penjara, yang kemudian dialihkan menjadi tahanan rumah pada 2020 karena kondisi kesehatan yang memburuk. Setelah perubahan rezim drastis pada 2024, ia dibebaskan sepenuhnya, dan pada awal 2025, pengadilan tertinggi negara membebaskannya dari sisa kasus hukum, membuka peluang partisipasi dalam pemilu mendatang.
Kesehatan Zia memang telah menjadi perhatian nasional sejak lama. Ia menderita komorbiditas kompleks, termasuk gangguan jantung, diabetes, artritis, sirosis hati, serta komplikasi ginjal dan pernapasan. Dirawat intensif di sebuah rumah sakit swasta di Dhaka sejak 23 November lalu akibat infeksi paru, kondisinya memburuk pesat. Pada akhir November, ia dipindahkan ke unit perawatan kritis, bergantung pada alat bantu hidup dan menjalani dialisis rutin. Tim medis menyatakan bahwa usia lanjut dan multipel organ failure membuat prognosis semakin suram.
Penasihat Utama sementara Bangladesh, Muhammad Yunus, menyampaikan duka cita mendalam, menyebut Zia sebagai “tokoh besar yang tak tergantikan dalam sejarah bangsa.” Yunus menekankan peran Zia tidak hanya sebagai pemimpin partai, tapi sebagai aktor kunci dalam perjuangan demokrasi dan perlawanan terhadap otoritarianisme. “Keberaniannya dalam menghadapi rezim militer dan pengorbanannya demi prinsip demokrasi telah membentuk wajah politik Bangladesh modern,” ujarnya. Ia juga mengakui bahwa Zia menjadi korban “pembalasan politik ekstrem,” merujuk pada masa penahanan yang panjang.
Partai-partai lain, termasuk kelompok Islamis seperti Jamaat-e-Islami, turut menyampaikan belasungkawa, mencerminkan pengaruh lintas spektrum yang dimiliki Zia meski dalam polarisasi politik yang tajam. Menurut BNP, penurunan kesehatan Zia dipercepat oleh kurangnya akses pengobatan optimal selama masa tahanan sebelumnya, termasuk penolakan izin berobat ke luar negeri. Setelah perubahan politik pada 2024, ia sempat menjalani perawatan di Inggris pada awal tahun ini sebelum kembali ke tanah air.

Kembalinya putranya, Tarique Rahman, dari pengasingan panjang di Inggris baru-baru ini menjadi momen emosional bagi keluarga dan pendukung BNP. Rahman, yang mengambil alih kepemimpinan partai, tiba untuk mendampingi ibunya di saat-saat terakhir, meski di tengah kritik atas keterlambatannya akibat pertimbangan keamanan.
Wafatnya Khaleda Zia meninggalkan vakum dalam lanskap politik Bangladesh, terutama menjelang pemilu yang dijadwalkan pada 2026. Sebagai simbol ketangguhan dan nasionalisme, warisannya akan terus menjadi bahan refleksi akademis tentang dinamika kekuasaan, gender, dan demokrasi di negara yang sering dilanda turbulensi politik. Bangsa Bangladesh kini berduka atas kepergian seorang figur yang, meski penuh kontroversi, telah mengukir nama dalam catatan sejarah panjang perjuangan kemerdekaan dan transisi demokrasinya.
Pewarta : Anjar Bramantyo

