RI News. West Palm Beach, Fla — Presiden Donald Trump mengumumkan komitmen dana lebih dari 5 miliar dolar AS untuk rekonstruksi Gaza dari anggota Dewan Perdamaian yang baru dibentuknya. Pengumuman ini disampaikan melalui postingan di media sosial pada hari Minggu, menjelang rapat perdana dewan tersebut di Washington pada 19 Februari 2026.
Menurut Trump, negara-negara anggota telah berjanji menyumbang dana tersebut untuk upaya kemanusiaan dan pembangunan kembali wilayah yang porak-poranda akibat konflik berkepanjangan. Selain itu, mereka juga menyiapkan ribuan personel untuk bergabung dalam Pasukan Stabilisasi Internasional dan kepolisian lokal guna menjaga keamanan serta perdamaian bagi penduduk Gaza.
“Dewan Perdamaian ini akan menjadi badan internasional paling berpengaruh sepanjang sejarah, dan saya merasa terhormat menjadi ketuanya,” tulis Trump, seraya menekankan bahwa pengumuman resmi akan dilakukan pada pertemuan pertama di Donald J. Trump Institute of Peace di ibu kota Amerika Serikat.

Meski demikian, Trump belum merinci negara mana saja yang memberikan komitmen finansial maupun personel tersebut. Namun, Indonesia menjadi negara pertama yang memberikan sinyal kuat. Militer Indonesia menyatakan bahwa hingga 8.000 prajurit sedang dipersiapkan dan diperkirakan siap dikerahkan paling lambat akhir Juni 2026 untuk misi kemanusiaan dan perdamaian di Gaza. Komitmen ini menandai langkah konkret pertama yang diterima dalam kerangka inisiatif Trump.
Rekonstruksi Gaza diproyeksikan membutuhkan biaya mencapai 70 miliar dolar AS, menurut estimasi bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bank Dunia, dan Uni Eropa. Lebih dari dua tahun konflik telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur di Jalur Gaza, meninggalkan sedikit wilayah yang tidak terdampak serangan.
Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada Oktober lalu mewajibkan pembentukan pasukan stabilisasi bersenjata internasional untuk menjamin keamanan dan melucuti kelompok militan Hamas—tuntutan utama dari pihak Israel. Hingga kini, minat negara-negara untuk bergabung dalam pasukan tersebut masih terbatas.
Baca juga : Ketegangan di Balik Dinding Rumah Sakit: Ketika Penjaga Sipil dan Tim Kemanusiaan Bertabrakan di Nasser
Meskipun intensitas pertempuran besar telah menurun, insiden kekerasan sporadis masih terjadi. Pasukan Israel dilaporkan terus melakukan serangan udara dan penembakan terhadap warga Palestina di sekitar zona pengendalian militer, sementara korban jiwa di pihak Palestina terus bertambah sejak gencatan senjata berlaku.
Dewan Perdamaian yang dipimpin Trump awalnya difokuskan pada penyelesaian konflik Israel-Hamas di Gaza. Namun, inisiatif ini kini berkembang menjadi forum yang lebih luas untuk menangani krisis global, di luar kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa. Langkah ini dipandang sebagai upaya Amerika Serikat untuk merestrukturisasi tatanan internasional pasca-Perang Dunia II.
Beberapa sekutu tradisional AS di Eropa dan kawasan lain menunjukkan sikap hati-hati, bahkan menolak bergabung karena khawatir dewan ini berpotensi menyaingi peran Dewan Keamanan PBB.

Rapat perdana pada Kamis mendatang dihadiri delegasi dari lebih dari 20 negara, meski Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak diperkirakan hadir meskipun baru-baru ini bertemu Trump di Gedung Putih.
Gedung yang menjadi lokasi pertemuan tersebut—sebelumnya dikenal sebagai U.S. Institute of Peace—telah berganti nama menjadi Donald J. Trump Institute of Peace sejak Desember 2025. Perubahan nama ini disertai kontroversi, termasuk gugatan hukum dari mantan karyawan dan eksekutif lembaga tersebut setelah pemerintahan Trump mengambil alih fasilitas dan memberhentikan hampir seluruh stafnya tahun lalu.
Inisiatif ini mencerminkan ambisi Trump untuk membentuk mekanisme perdamaian alternatif yang lebih langsung dipimpin oleh Amerika Serikat, di tengah dinamika geopolitik yang kompleks pasca-gencatan senjata di Gaza.
Pewarta : Setiawan Wibisono

