RI News. Kabul – Malam Senin (16 Maret 2026) menjadi malam kelam bagi ratusan pasien dan petugas di Rumah Sakit Pengobatan Kecanduan Omid, sebuah fasilitas rehabilitasi narkoba terbesar di ibu kota Afghanistan. Serangan udara yang dituding dilakukan oleh angkatan udara Pakistan menghancurkan sebagian besar kompleks rumah sakit berkapasitas 2.000 tempat tidur tersebut sekitar pukul 21.00 waktu setempat.
Menurut pernyataan resmi pemerintah Afghanistan, serangan itu menewaskan sedikitnya 408 orang dan melukai 265 lainnya. Korban mayoritas adalah pasien yang sedang menjalani pemulihan dari kecanduan narkoba—kelompok rentan yang seharusnya dilindungi dalam situasi konflik bersenjata. Tim penyelamat masih bekerja hingga Selasa pagi, menggunakan alat berat untuk mengangkat puing-puing sambil mencari korban yang tertimbun. Saksi mata melaporkan pemandangan mengerikan: beberapa pasien terbakar di tempat tidur mereka, sementara yang lain tertimpa reruntuhan dinding yang roboh.
Rumah sakit Omid, yang sebelumnya dikenal sebagai Rumah Sakit Pengobatan Kecanduan Ibn Sina, dibangun ulang dan diperluas sekitar setahun lalu sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi epidemi kecanduan narkoba di Afghanistan. Lokasinya berada di dekat bandara internasional Kabul dan bersebelahan dengan bekas pangkalan militer NATO Camp Phoenix—sebuah area yang kini diklaim telah diubah fungsi sepenuhnya menjadi fasilitas sipil. Namun, Pakistan bersikeras bahwa target mereka adalah “situs penyimpanan amunisi dan peralatan teroris militer” di lokasi tersebut, dan menegaskan bahwa rumah sakit berada beberapa kilometer jauhnya dari sasaran sebenarnya.

Juru bicara Kementerian Informasi Pakistan menyatakan serangan itu “tepat, disengaja, dan profesional”, serta menolak tuduhan bahwa fasilitas kesehatan menjadi sasaran. Mereka menuding pihak Afghanistan menyebarkan informasi palsu untuk membentuk opini publik. Sementara itu, juru bicara pemerintah Afghanistan Zabihullah Mujahid menyebut serangan ini sebagai “tindakan biadab yang menargetkan rumah sakit dan warga sipil tak berdosa”, termasuk pecandu narkoba yang sedang berjuang pulih.
Konflik bersenjata antara kedua negara tetangga ini telah memasuki minggu ketiga sejak akhir Februari 2026. Bentrokan dimulai dari serangan udara Pakistan yang menargetkan kelompok militan Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP), yang dituduh mendapatkan perlindungan di wilayah Afghanistan. Kabul membantah tuduhan tersebut dan membalas dengan serangan lintas batas. Eskalasi ini telah mengganggu gencatan senjata yang sempat dimediasi Qatar pada Oktober tahun lalu, dan menimbulkan kekhawatiran internasional karena wilayah perbatasan masih menjadi sarang kelompok militan seperti Al-Qaida dan ISIS.
Misi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Afghanistan menyampaikan belasungkawa mendalam dan menyerukan gencatan senjata segera serta penyelidikan independen. Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB menekankan bahwa pihak yang bertanggung jawab harus diadili sesuai standar hukum internasional. Sejak konflik meletus, ratusan warga sipil Afghanistan—termasuk anak-anak—telah menjadi korban, dan puluhan ribu orang terpaksa mengungsi.
Di tengah duka yang mendalam, keluarga korban berkerumun di rumah sakit-rumah sakit sekitar, mencari informasi tentang orang-orang tercinta. Otoritas setempat merilis daftar ratusan nama pasien yang dinyatakan selamat untuk meredakan kepanikan. Namun, bagi banyak orang seperti Haji Najibullah—yang kehilangan kontak dengan putra dan kerabatnya yang dirawat di Omid—hanya doa dan harapan yang tersisa.
Insiden ini bukan sekadar bentrokan militer biasa; ia menyingkap kerentanan sipil di tengah rivalitas geopolitik yang semakin memanas. Dunia menanti langkah diplomatik yang bisa meredakan api perang sebelum menelan lebih banyak korban tak berdosa.
Pewarta : Anjar Bramantyo

