RI News. Austin, Texas – Malam yang seharusnya penuh gelak tawa di kawasan Sixth Street berubah menjadi mimpi buruk ketika seorang pria bersenjata membuka tembakan di luar sebuah bar populer, menewaskan dua orang dan melukai 14 lainnya dalam insiden yang kini menjadi sorotan nasional.
Kejadian tragis itu terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari Minggu (1 Maret 2026) di depan Buford’s Backyard Beer Garden, salah satu spot favorit pengunjung malam di distrik hiburan ikonik Austin yang hanya berjarak beberapa kilometer dari kampus Universitas Texas. Penembak, yang kemudian tewas ditembak balik petugas kepolisian, menggunakan dua jenis senjata api—pistol dan senapan—dalam serangan yang tampak terencana.
Menurut keterangan resmi Kepala Kepolisian Austin Lisa Davis, pelaku terlihat mengendarai SUV melintasi area bar beberapa kali sebelum berhenti, menyalakan lampu hazard, menurunkan kaca jendela, dan melepaskan tembakan pistol ke arah pengunjung yang berada di teras serta trotoar depan bar. Setelah itu, ia memarkir kendaraan, turun sambil membawa senapan, dan melanjutkan penembakan terhadap pejalan kaki di sekitar lokasi. Respons petugas sangat cepat; dalam waktu kurang dari satu menit sejak panggilan darurat pertama, polisi yang sudah berpatroli di kawasan akhir pekan itu berhasil menghentikan pelaku dengan tembakan mematikan.

Identitas pelaku telah diketahui sebagai Ndiaga Diagne, warga negara Amerika Serikat berusia 53 tahun yang berasal dari Senegal dan memperoleh kewarganegaraan melalui naturalisasi sejak tahun 2006. Meski motif pasti masih dalam penyelidikan mendalam, Biro Investigasi Federal (FBI) menyatakan sedang menelusuri kemungkinan adanya unsur terorisme berdasarkan sejumlah indikator yang ditemukan pada diri pelaku dan di dalam kendaraannya—termasuk pakaian yang dikenakan berupa sweatshirt bertuliskan frasa religius serta elemen desain yang merujuk pada salah satu negara Timur Tengah.
Pejabat FBI setempat menekankan bahwa penilaian akhir mengenai klasifikasi sebagai aksi teror masih terlalu dini, mengingat proses forensik dan analisis digital baru dimulai. Namun, kehadiran indikator tersebut mendorong keterlibatan Joint Terrorism Task Force untuk memastikan tidak ada keterkaitan dengan jaringan atau pengaruh eksternal.
Insiden ini menambah daftar kelam kekerasan bersenjata di Sixth Street dalam beberapa tahun terakhir, meski tidak memenuhi kriteria pembunuhan massal secara teknis. Kawasan tersebut—yang dikenal sebagai pusat kehidupan malam dengan puluhan bar dan venue musik—sudah pernah mengalami penembakan signifikan, termasuk satu kasus pada 2021 yang melukai belasan orang. Respons cepat aparat kali ini dipuji Wali Kota Austin Kirk Watson sebagai faktor penyelamat nyawa, mengingat kehadiran polisi yang masif pada akhir pekan berhasil membatasi korban lebih parah.
Baca juga : Bentrok Hebat antara Pengunjuk Rasa dan Pasukan Keamanan di Pakistan Tewaskan Setidaknya 22 Orang
Sementara itu, Universitas Texas menyatakan keprihatinan mendalam karena sebagian korban merupakan bagian dari komunitas kampus. Presiden universitas menyerukan doa bagi para korban dan keluarga mereka, sekaligus menegaskan solidaritas dengan kota Austin yang tengah berduka.
Penyelidikan bersama antara Kepolisian Austin dan FBI terus berlangsung untuk mengungkap latar belakang, motif, serta kemungkinan faktor pemicu yang lebih luas. Di saat yang sama, peristiwa serupa di kota lain pada hari yang sama—seperti penembakan di sebuah venue konser di Cincinnati yang melukai sembilan orang—mengingatkan publik akan kerentanan ruang publik terhadap kekerasan senjata api.
Tragedi ini kembali menempatkan isu keamanan di distrik hiburan besar sebagai prioritas mendesak, di tengah upaya berkelanjutan untuk menyeimbangkan kebebasan beraktivitas malam dengan perlindungan nyawa warga.
Pewarta : Anjar Bramantyo

