RI News. Kediri, 23 Agustus 2026- Suasana berbeda mewarnai jalanan Kabupaten Kediri, Sabtu (22/8). Derap langkah sapi berpadu dengan roda cikar dalam Parade Cikar 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Kediri untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Mengusung tema “Merawat Tradisi, Melangkah Bersama, Membangun Kediri”, Parade Cikar tahun ini menjadi penyelenggaraan kelima. Sebanyak 43 cikar mengikuti kegiatan yang mengambil start dari kawasan Totok Kerot dan berakhir di Bank BPR Daerah Kabupaten Kediri. Jumlah peserta meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 40 cikar. Bahkan, salah satu peserta datang dari Yogyakarta.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, Solikin, mengatakan Parade Cikar bukan hanya menjadi upaya menjaga tradisi, tetapi juga sarana mengenalkan potensi peternakan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Menurutnya, keberadaan cikar memiliki kaitan erat dengan kehidupan masyarakat Kediri pada masa lalu. Di balik tradisi tersebut, terdapat potensi ekonomi melalui usaha peternakan sapi. “Selain melestarikan budaya kita, ini adalah sarana transportasi tradisional yang bisa mengingatkan memori kolektif kita terkait pemanfaatan cikar untuk kegiatan masyarakat. Tapi kita juga ingin mengingatkan generasi muda bahwa memelihara sapi atau beternak sapi merupakan potensi ekonomi yang luar biasa,” ujar Solikin. Ia menambahkan, kebutuhan masyarakat terhadap produk peternakan seperti daging, susu, dan telur terus ada. Kondisi tersebut menjadi peluang ekonomi yang dapat dikembangkan, termasuk melalui pengolahan produk peternakan menjadi produk bernilai tambah. Pesan tersebut juga disampaikan kepada anak-anak. Sekitar 50 siswa SDN 1 Wonosari turut menaiki cikar sembari mendapatkan edukasi mengenai pentingnya mengonsumsi produk peternakan. Panitia juga membagikan sekitar 2.000 telur rebus kepada masyarakat yang berada di sepanjang kegiatan parade.
Sementara itu, aspek kesehatan hewan menjadi perhatian sebelum parade dimulai. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, memastikan seluruh sapi yang mengikuti parade telah melalui pemeriksaan kesehatan. Dari 46 sapi yang semula didaftarkan, tiga di antaranya dinyatakan tidak memenuhi persyaratan kesehatan sehingga tidak diikutsertakan. Dengan demikian, sebanyak 43 cikar tampil dengan membawa sekitar 86 ekor sapi. Pemeriksaan dilakukan langsung oleh petugas kesehatan hewan ke lokasi masing-masing sapi untuk memastikan tidak terdapat indikasi penyakit hewan menular. Mayoritas sapi yang tampil merupakan jenis Peranakan Ongole (PO) dan Brahman, termasuk hasil persilangan. Sapi-sapi tersebut juga bukan merupakan sapi penggemukan, melainkan sapi yang telah terlatih mengikuti kegiatan parade. Sepanjang rute sekitar 5,5 kilometer, seluruh sapi dapat mengikuti parade hingga garis finis tanpa laporan gangguan kesehatan.
Baca juga: Manifestasi Hermeneutika Simbolik dan Solidaritas Kebangsaan di Pesisir Selatan Yogyakarta
Kemeriahan juga terlihat dari kreativitas setiap cikar. Peserta tidak hanya dituntut menampilkan performa sapi, tetapi juga kreativitas kendaraan serta kelengkapan aksesori dan muatan lokal. Beragam produk pertanian dan peternakan khas Kabupaten Kediri turut menghiasi cikar peserta. Kehadiran produk lokal tersebut menjadikan parade sekaligus sebagai etalase potensi daerah. Tradisi cikar sendiri hingga kini masih bertahan di sekitar 10 kecamatan di Kabupaten Kediri. Kecamatan Wates dan Ngadiluwih menjadi wilayah dengan jumlah peserta terbanyak, masing-masing sekitar 10 hingga 11 peserta. Tutik berharap Parade Cikar dapat menjadi penghubung antara generasi masa lalu dan generasi saat ini. “Budaya-budaya yang ada di Kabupaten Kediri terus dilestarikan dan diuri-uri, sehingga generasi sekarang juga mengetahui kebudayaan masa lalu. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi apresiasi bagi para peternak yang terus mempertahankan tradisi sekaligus semangat memelihara sapi,” pungkasnya.
Pewarta : Alex Franico
Tagline: #TradisiMeroketHidupKembali, #PotensiPeternakanBangkit, #MerawatBudayaKediri,

