RI News Portal. Semarang, 13 Desember 2025 – Di tengah duka mendalam yang menyelimuti wilayah Sumatera akibat banjir bandang dan longsor yang telah merenggut ratusan nyawa serta mengungsikan ratusan ribu warga sejak akhir November 2025, Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang menunjukkan komitmen kemanusiaan melalui serangkaian inisiatif tanggap darurat dan pemulihan jangka panjang.
Rektor Undip, Prof. Suharnomo, menyatakan bahwa respons institusinya terhadap bencana ini berakar pada nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi perguruan tinggi. “Gerakan ini lahir dari panggilan nurani, di mana kami merasa wajib hadir tidak hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai bagian dari solusi nasional,” ujarnya dalam pernyataan di Semarang pada Sabtu pekan ini.
Sejak awal Desember, Undip telah mengerahkan tim relawan melalui Diponegoro Disaster Assistance Response Team (D-DART). Gelombang pertama berangkat pada 2 Desember 2025, diikuti tim kedua pada 10 Desember, dengan prioritas pada layanan medis darurat, distribusi logistik, dan pendampingan psikososial. Koordinasi intensif dilakukan dengan pemerintah daerah setempat, termasuk gubernur dan bupati di wilayah terdampak, untuk memastikan bantuan mencapai lokasi-lokasi paling kritis.

Salah satu fokus utama adalah penyediaan air bersih, mengingat banyak wilayah kehilangan akses sumber air layak minum pasca-bencana. Undip tengah mempersiapkan pengiriman teknologi desalinasi portabel yang sebelumnya sukses diterapkan di kawasan pesisir Jawa. Satu unit dari empat mesin yang tersedia dijadwalkan dikirim melalui jalur darat pada Senin, 15 Desember 2025, dengan unit lainnya menyusul secepatnya.
Di sisi internal, Undip memberikan perhatian khusus pada mahasiswanya yang terdampak. Hingga kini, telah teridentifikasi 95 mahasiswa dari berbagai jenjang—sarjana hingga doktoral—yang berasal dari daerah bencana di Sumatera. Institusi ini membebaskan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mereka, disertai bantuan biaya hidup hingga kondisi keluarga kembali stabil. Proses pendataan masih terus berlangsung, mengingat dampak bencana yang luas kemungkinan memengaruhi lebih banyak sivitas akademika.
Prof. Suharnomo menekankan bahwa upaya Undip tidak terbatas pada fase darurat. “Kami memprioritaskan pemulihan berkelanjutan, mencakup aspek ekonomi masyarakat, kesehatan mental, dan rekonstruksi sosial-budaya,” katanya. Pendekatan multidisiplin sedang dipetakan bersama otoritas lokal dan tokoh masyarakat untuk intervensi yang tepat sasaran, termasuk pendampingan pasca-trauma dan revitalisasi ekonomi lokal.
Bencana hidrometeorologi ini, yang dipicu curah hujan ekstrem namun diperparah degradasi lingkungan, telah menyebabkan kerusakan masif di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dampaknya melampaui kerugian materiil, menyentuh stabilitas psikososial dan pendidikan generasi muda. Dalam konteks ini, inisiatif Undip menjadi contoh bagaimana institusi pendidikan tinggi dapat berperan aktif dalam membangun resiliensi nasional.
“Meski bukan yang terbesar, kami ingin berkontribusi secara konsisten dan profesional. Ini adalah panggilan kemanusiaan yang kami jalani dengan sepenuh hati,” tutup Prof. Suharnomo, menegaskan komitmen Undip untuk terus mendampingi proses pemulihan hingga harapan bangkit kembali di wilayah terdampak.
Pewarta : Sriyanto
